Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Gempa Vulkanik Dalam, 25 Gempa Vulkanik Dangkal, 8 Gempa Tektonik Lokal melanda wilayah sekitar Gunung Agung.

Desa-desa di sekitar Gunung Agung saat ini nampak lengang. Penduduk banyak yang meninggalkan rumah mereka seiring dengan meningkatnya aktivitas Gunung Agung. Masyarakat khawatir jika Gunung Agung memuntahkan lahar panasnya.

Masyarakat dihimbau untuk selalu mengenakan masker dan tidak beraktifitas dalam radius 9 km dari kawah. Mengingat jika terjadi erupsi ada potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia.

Sejarah Letusan Gunung Agung

Gunung Agung adalah gunung tertinggi di Pulau Bali. Dahulu setinggi 3.142 meter di atas pemukaan laut (Mdpl), lalu turun menjadi 2.920-3.014 Mdpl setelah meletus pada tahun 1963.

Puncak Gunung Agung terletak di bagian barat daya, tepat di atas Pura Besakih. Gunung vulkanik tipe monoconic strato itu termasuk gunung muda dan sempat tidur panjang selama 120 tahun sampai meletus pada 1963. Periode istirahatnya yang paling pendek 13 tahun dan terpanjang 120 tahun.

Tak banyak catatan tentang letusan Gunung Agung, hanya tercatat empat kali meletus sejak tahun 1808, itu pun data dan informasinya terbatas.
  • 1808 – Pada tahun itu Gunung Agung melontarkan abu dan batu apung dengan jumlah luar biasa.
  • 1821 – Gunung Agung meletus lagi. Letusannya disebut normal tetapi tak ada keterangan terperinci.
    1843 – Gunung Agung meletus lagi, didahului sejumlah gempa bumi, kemudian memuntahkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung.
  • 1963 – Gunung Agung meletus lagi dan dan tercatat berdampak sangat merusak. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.
  • 22 September 2017 – Gunung Agung statusnya naik menjadi level Awas, masyarakat dilarang beraktifitas dalam radius 12 KM dari Gunung Agung.
  • 23 September 2017 – Terjadi aktivitas vulkanik yang meningkat. 71 Gempa Vulkanik Dalam. 25 Gempa Vulkanik Dangkal. 8 Gempa Tektonik Lokal.

Kiprah MDMC-Lazismu

34.931 Jiwa Warga Sekitar Gunung Agung Mengungsi di 238 Titik pengungsian yang tersebar di 7 Kabupaten di Bali

Lazismu – MDMC bergerak bersama dan telah mendirikan posko induk di Tanah Ampu Karangasem dan SMP Muhammadiyah Karangasem serta mengirim tim bergabung di lokasi pengungsian GOR Klungkung. Sejumlah personel dari MDMC Pusat dan tim medis Muhammadiyah Jateng dan Jatim juga bergabung untuk membantu tim yang sudah di lokasi. Bantuan yang sudah disalurkan oleh tim Lazismu – MDMC antara lain berupa bantuan kebutuhan dasar seperti: selimut, masker, kantong plastik, pampers, beras, minyak goreng, sembako dan alat MCK bagi pengungsi.

Kini Lazismu dan MDMC fokus membantu pengungsi di desa Ulakan, kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem dan pengungsi di Kabupaten Klungkung. Rumah Sakit PKU Muhammadiyah bergabung dengan Lazismu serta MDMC, akan menambah tenaga medis untuk memberikan pelayanan kesehatan untuk para pengungsi.

Dalam beberapa waktu ke depan, pengungsi sangat membutuhkan selimut, masker, dan obat-obatan. Hal itu untuk mengantisipasi hawa dingin di tempat pengungsian dan banyaknya abu vulkanik.

“Lazismu dan MDMC berencana mendatangkan relawan dan psikolog untuk menghibur anak-anak atau dapat kami sebut kegiatan trauma healing. Diharapkan mereka tetap ceria di tengah musibah yang berlangsung,” ungkap Lizi.

Fasilitas MCK di tempat pengungsian sementara ini masih belum memadai dari segi kualitas maupun kuantitas. Untuk itu dibutuhkan MCK portable (mobil MCK) dalam jumlah yang cukup.

Bantuan dan doa dari masyarakat Indonesia sangat diharapkan untuk kebaikan para pengungsi dan petugas relawan yang ada di lapangan.

Saatnya kita mengulurkan tangan untuk saudara kita di Bali.

Bantu mereka dengan berdonasi ke rekening kami Bank Muamalat No. 7710015635 atas nama Lazis Muhammadiyah Jatim (Kemanusiaan).

Bantu share postingan ini agar makin banyak yang membantu saudara kita di Bali.

#Indonesiasiaga
#siagagunungagung
#lazismu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *