Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Jika diberikan umur lebih oleh Allah setiap orang akan beranjak menuju tua atau lanjut usia (lansia). Namun bagaimana nasib kehidupan di hari tua kelak maka sudah semestinya hal itu menjadi pikiran kita semua.

Hidup di hari tua dalam kondisi lemah tak berdaya dan tanpa keluarga yang mendampingi tentu bisa dibayangkan bagaimana kondisinya. Itulah yang dialami oleh bu Rahmawati (75 tahun) dan bu Suyatmi (69 tahun), warga Jl. Petemon Kali 83c Surabaya. Kedua lansia kakak beradik itu hidup dalam kondisi yang memprihatinkan karena sudah tidak ada lagi keluarga dekat yang mendampingi.

Lazismu Jawa Timur bersama dokter Zuhroh dan Abu Askandar Rosyid, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sawahan Surabaya, senin 18/02/2020, datang berkunjung ke rumah kedua lansia itu. Selain bersilaturrahim menjenguk keadaannya juga untuk memeriksa kesehatannya.

Menurut Abu Askandar, Ketua PCM, bu Rahmawati (di dalam foto berkerudung) adalah mantan Ketua ‘Aisyiyah Petemon di Cabangnya. Dulu ia adalah wanita yang sangat aktif menggerakkan pengajian ibu-ibu ‘Aisyiyah di kampung Petemon. Kini ia dan adiknya hidup dalam kondisi membutuhkan pendampingan yang selayaknya.

Kedua kakak beradik yang berusia lanjut ini tinggal di rumah peninggalan orang tua. Walau berdua, keduanya kini sudah semakin lama semakin lemah tak berdaya. Keduanya tidak mempunyai anak karena memang tidak menikah. Sebenarnya keduanya masih punya adik yang juga lansia, namun tempat tinggalnya sangat jauh di luar kota.

Bu Suyatmi sudah lama tidak bisa berjalan karena stroke. Sedangkan bu Rahmah juga sudah lima bulan ini susah untuk berjalan karena bermasalah pada kakinya.

Sehari-hari bu Rahmah masih sempat berjualan jamu Jawa. Dulu, penjualan jamu Jawanya sangat laris dan ramai pembeli, apalagi jalan depan rumahnya sangat ramai dilalui orang dan kendaraan. Namun kini berjualan jamu hanya untuk sekedar bertahan hidup. Karena keadaan tubuhnya yang semakin lemah maka bisa dipastikan usahanya itu tidak begitu lancar berjalan.

Untuk makan dan minum sehari-hari mereka membelinya dari penjual nasi yang lewat di depan rumah, namun terkadang mendapatkan pemberian dari warga sekitarnya. Mereka sudah tidak bisa berbelanja, memasak atau membersihkan peralatan dapur.

Kondisi rumah berlantai dua yang dihuni kedua lansia itu sebenarnya masih kuat dan kokoh. Namun sudah beberapa tahun ini tidak terawat karena penghuninya yang lemah tak berdaya tidak bisa merawat rumah dengan baik. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan rumahnya kini yang (maaf) kumuh, kotor dan tidak sehat. Mereka berdua pun jarang membersihkan badan karena tidak ada yang merawat.

Dari warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah setempat juga sudah ada perhatian, yaitu bekerja bakti membersihkan rumah kedua lansia ini. Juga setiap pekan sekali ada ibu-ibu dari Aisyiyah Ranting Petemon yang datang untuk sekedar membersihkan tubuh kedua lansia ini. Sebelumnya, Lazismu kota Surabaya, pada 30/01/2020 lalu juga telah memberikan bantuan 1 unit kursi roda agar bu Rahmah bisa bergerak tanpa bersusah payah berjalan ‘merambat’.

Dokter Zuhroh yang memeriksa menyatakan sebenarnya tidak ada masalah dalam kesehatan pada kedua lansia ini selain stroke pada bu Yatmi dan kaki bengkak pada bu Rahmah. Untuk itu hanya diberikan obat dan vitamin biasa. Sedangkan untuk bengkak kaki pada bu Rahmah akan diupayakan tindak lanjutnya. Dokter Zuhroh menyarankan agar kedua lansia ini bergerak aktivitas sebisanya dan jangan sampai tidak menggerakkan anggota tubuhnya.

Karena kedua lansia tidak mau dirawat di Panti Jompo, dokter Zuhroh menyarankan kepada Abu Askandar selaku Ketua PCM, agar mencarikan perawat dan tenaga sosial yang bisa merawat dan menjaga kedua lansia ini secara rutin, tidak sekedar membersihkan tubuh, juga menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya. Saran itu disanggupi dan diupayakan agar ada pendampingan oleh perawat dan tenaga sosial lainnya, sedangkan biayanya bisa diusahakan oleh Lazismu. (Adit).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *