Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

TANYA : Ass.wr.wb. Pengasuh rubrik Konsultasi Kesehatan majalah Matahati yang dirahmati Allah SWT. Mohon penjelasan tentang penyakit TBC ? Berbahayakah ? prasetyohva@gmail.com

JAWAB :

dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes

Wa’alaikumussalam wrwb. Mas Prasetyo yang dirahmati Allah. Tuberkulosis (TB) yang juga dikenal dengan singkatan TBC, adalah sekelompok penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini ditularkan dari penderita TB aktif yang batuk dan mengeluarkan titik kecil air liur dan terhirup oleh orang sehat yang tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit ini. TB termasuk dalam 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Data WHO menunjukkan bahwa Indonesia termasuk dalam 6 besar negara dengan kasus baru TB terbanyak. Selain paru-paru, basil TB juga bisa menyerang tulang, otak, sistem pencernaan, kelenjar getah bening, sistem saluran kemih, serta sistem saraf.

Gejala klasik yang umum berupa:

  • Batuk kering yang bisa menjadi berdahak. Batuk ini berlangsung selama 21 hari atau lebih.
  • Batuk Darah.
  • Dada terasa sakit saat bernapas atau batuk.
  • Nafsu Makan hilang.
  • Penurunan berat badan.
  • Demam dan menggigil.
  • Berkeringat secara berlebihan pada malam hari.

Diagnosis:

Berdasar keluhan yang timbul dan memeriksa apakah ada pembengkakan kelenjar getah bening. Apabila terdapat kemungkinan mengidap TB, maka akan dilakukan pemeriksaan penunjang berupa:

  1. Foto Rontgen Dada. Apabila Anda mengidap TB, foto hasil tes akan menunjukkan perubahan pada paru-paru yang khas untuk TB.
  2. Tes Mantoux atau Tuberculin Skin Test. Tes Mantoux umumnya digunakan untuk menguji keberadaan TB laten.
  3. Pemeriksaan Sampel Dahak. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengecek keberadaan basil Mycobacterium Tuberculosis. Pemeriksaan sampel dahak juga bisa digunakan untuk menguji basil TB yang resistan atau sensitif terhadap antibiotik tertentu.
  4. Tes Darah IGRA (Interferon Gamma Release Assay), dapat digunakan untuk mendeteksi tuberkulosis aktif dan laten. Tes ini akan memeriksa reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap basil TB
  5. CT scan. Jika dibutuhkan gambaran yang lebih detail atau ada kecurigaan penyebaran TB ke jaringan tubuh yang lain

 

Pengobatan Tuberkulosis

Penyakit yang tergolong serius ini dapat disembuhkan dan jarang berakibat fatal jika diobati dengan benar. Langkah pengobatan yang digunakan adalah pemberian antibiotik yang harus dihabiskan oleh pengidap TB selama jangka waktu tertentu sesuai resep dokter.

Masa penyembuhan TB berbeda-beda pada tiap pengidap dan tergantung pada kondisi kesehatan pengidap serta tingkat keparahan TB yang dialami. Kondisi pengidap umumnya akan mulai membaik dan TB berhenti menular setelah mengonsumsi antibiotik selama 2 minggu. Tetapi untuk memastikan kesembuhan total, pengidap TB harus menggunakan antibiotik yang diberikan dokter selama 6 bulan.

Apabila pengidap tidak meminum obat sesuai resep dokter atau berhenti meminumnya sebelum waktu yang dianjurkan, bakteri TB bisa tidak hilang sepenuhnya meski pengidap merasa kondisinya sudah membaik. Infeksi TB yang diidap juga berpotensi menjadi resistan terhadap antibiotik. Jika ini terjadi, TB akan menjadi lebih berbahaya dan sulit diobati sehingga masa penyembuhannya pun akan jauh lebih lama. Pengidap TB dapat menularkan penyakit ini jika belum menjalani pengobatan dalam jangka waktu yang ditentukan oleh dokter

Sementara langkah utama untuk mencegah TB adalah dengan menerima vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berusia 2 bulan.

Kita juga bisa mencegah TB dengan senantiasa mengenakan masker saat berada di tempat ramai, jika berinteraksi dengan pengidap TB, serta mencuci tangan secara teratur (khususnya pekerja medis). Cara lain adalah dengan memastikan bahwa rumah memiliki sirkulasi udara yang baik, misalnya sering membuka pintu dan jendela agar udara segar serta sinar matahari dapat masuk.

Risiko penularan TB meningkat pada:

  • Orang yang tinggal di pemukiman padat dan kumuh.
  • Petugas medis yang sering berhubungan dengan pengidap TB.
  • Manula serta anak-anak.
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah: Pengidap HIV, DM, Kanker, serta kekurangan gizi.
  • Pengguna obat terlarang.
  • Peminum minuman keras.
  • Hampir 20 persen kasus TB dipicu oleh merokok.

Semoga penjelasan ini mampu membuat kita lebih waspada kepada TB.

 

dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes, Divisi Litbang Yankes – Majelis Pembina Kesehatan Umum PW Muhammadiyah Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *