Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Rupanya pengalaman begitu lekat tertoreh dalam dada, untuk setiap peristiwa yang telah kita jalani dan lalui. Baik itu pengalaman buruk atau baik, pengalaman terpuruk atau prestatif. Tentu termasuk di dalamnya praktek kapitalisme yang dilakukan oleh para kapitalis.

Kita punya pengalaman buruk dari segelintir kapitalis yang ada di negeri ini, karena praktek kapitalisme yang mereka tampilkan membuat begitu banyak rakyat sengsara dan membuat jurang mendalam antara yang kaya dengan yang miskin. Semakin lama jurang itu semakin dalam menganga.

Para kapitalis dengan kapital yang luar biasa dahsyat itu dan dengan kekuatan penuh mereka pakai untuk, – tidak sekedar mendominasi dunia ekonomi dan politik serta yang lainnya -, tetapi sekaligus juga mereka lakukan untuk mengeksploitasi sesama anak bangsa. Maka dari pengalaman buruk inilah kita punya mindset dan cara pandang yang buruk pula terhadap praktek kapitalisme dan terhadap para kapitalis.

“Rabbana maa kholaqta hadza bathila”.

Kapitalisme dengan para kapitalisnya tentu tidak ada yang sia-sia. Allah Swt telah menciptakannya, setidaknya sebagai pembelajaran sekaligus evaluasi diri bagi kita. Ketika praktek kapitalisme ada di tangan orang-orang kafir ternyata dampaknya begitu buruk.

Pertanyaannya, lalu mengapa kita membiarkan kapital ada di tangan mereka, kalau ternyata menimbulkan dampak yang buruk ? Kenapa kita tidak tampil menjadi kapitalis agar dengan kapital yang ada pada kita dapat menjadi “Rahmatan lil alamiin”, tampil memjadi solusi bagi anak-anak negeri.

Tidak sedikit diantara kita takut miskin, tapi pada saat yang sama kita punya mindset : “Buat apa harta, buat apa duit, toh mati juga nggak dibawa. Kenyataannya harta dan duit banyak juga tidak menjamin seseorang hidupnya bahagia.

Coba kita tanya kepada diri sendiri ketika yang terjadi sebaliknya. Maksudnya apakah tiadanya harta dan duit juga menjamin seseorang hidupnya akan bahagia ?

Bahkan masih ada saudara kita di antara adzan dan iqamah melantunkan doa kepadaNya; “Rugi dunyo nggak opo-opo (Yaa Allah), rugi akhirat bakal ciloko”. Takut miskin tapi pada saat yang sama minta miskin.

Sungguh ada cara yang paling mudah untuk menjalani hidup dan kehidupan ini, dari contoh terbaik yang Allah Swt telah pilihkan.

Mari kita tengok sejenak setiap perjuangan menegakkan Kalimat ALLAH, menegakkan iman dan Islam, kita tentu sepakat hampir sejak awal perjuangan menegakkan iman dan Islam tidak lepas dari pebisnis, para kapitalis.

Awal mula pertama Rasulullah Saw menegakkan Islam dapat support luar biasa berupa kapital harta. Harta itu datang dari orang yang sangat dekat dengan beliau Saw, yaitu isterinya yang pebisnis kaya raya, kapitalis kelas dunia.

Begitu juga ketika memasuki periode perjuangan para sahabat, sahabat-sahabat konglomerat (para kapitalis, pemilik kapital) selalu tampil di depan dalam hal pembiayaan perang, dalam mengatasi kesulitan air minum, dalam mengatasi kelangkaan pangan. Para Sahabat menampilkan Islam dalam praktek nyata sebagai “Rahmatan lil ‘alamin”, tentu dengan kekuatan kapital yang dimilikinya.

Sahabat, cobalah tengok perjuangan saudara-saudara kita di seluruh Jawa Timur baik yang ada di organisasi Islam di tingkat regional, lokal atau di tingkat bawah, yang ada di lembaga sosial dan dakwah, maka rata-rata akan bergairah dan maju begitu pesat ketika ditopang oleh para pimpinan, warga dan simpatisan yang rata-rata pebisnis, para kapitalis. Ditopang oleh para pejuang yang telah merasa selesai dalam urusan ekonomi diri dan keluarganya. Para pejuang yang sudah merasa cukup bahkan lebih dari cukup untuk urusan ekonominya.

Oleh karena itu dudah saatnya merealisasikan Program “JIHAD EKONOMI” yang telah diputuskan dalam Muktamar Muhammadiyah di Makasar tahun 2015. Bagi seluruh pejuang gerakan dakwah MUHAMMADIYAH agar hal ini tidak sekedar menjadi jargon tanpa arti.

“Rebut” kapital yang ada di tangan mereka orang-orang kafir, karena ketika kekuatan ekonomi ada di tangan mereka akan mereka pakai untuk menghalang-halangi orang beriman dari perjuangannya di jalan Allah.

Sebaliknya ketika kapitalis-kapitalis Muslim muncul maka tentu akan semakin banyak potensi dan kekuatan ekonomi yang akan mengalir deras kepada saudaranya utamanya yang dhuafa karena para kapialis muslim itu terikat dalam hal kewajiban menunaikan Zakat, Infaq dan Shodaqoh.

Siapapun umat Islam yang telah punya pengalaman praktek menjadi kapitalis Muslim sejati dengan taat dan patuh membayar zakatnya, maka mereka akan punya mindset betapa pentingnya “Kapitalisme religius”.

Saat ini era kapitalisasi itu telah mulai dilakukan oleh JRSM (Jaringan Rumah Sakit MUHAMMADIYAH) se Jawa Timur) dengan upaya membentuk korporatisasi, demikian juga LAZISMU selain untuk memenuhi ketentian UU Pengelolaan Zakat.

Semakin dahsyat kekuatan sumber-sumber ekonomi yang ada di tangan kaum Muslimin, di tangan para kapitalis Muslim (Kapitalis Religius) maka akan semakin dahsyat pula ZIS yang akan mengalir kepada umat. Rabbana maa kholaqta hadza bathila. Wallahu a’lam.

Tetap semangat. Bismillah.

 

Drh. Zainul Muslimin, Ketua Lazismu Wilayah Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *