drh. Zainul Muslimin : “Mewujudkan Kesejahteraan Di Negeri Surga”

Media sosial

Kepulauan Nusantara yang membentang dari ujung Sabang hingga Merauke terangkai bagaikan jamrud yang menghiasi khatulistiwa. Indahnya ribuan pulau yang berbaris dari ujung timur hingga barat  seolah menjadi sabuk yang menegaskan kehadiran sebuah entitas bangsa di tengah luasnya samudra Hindia dan Pasifik bernama Indonesia.

Semua mengakui, negeri ini sungguh sangat elok menawan, dengan potensi kekayaan luar biasa melimpah. Matahari bersinar sepanjang waktu, tanah subur terhampar luas, air melimpah setiap saat, lautan kaya sumber daya terbentang dengan garis pantai terpanjang di dunia, hutan tropis juga sangat luas, dan berbagai jenis tambang tersimpan di dalam perut bumi Indonesia. Tidak salah bila ada yang mengandaikan negeri ini bagaikan ‘serpihansurga’ yang terjatuh di bumi.

Namun sayangnya semua potensi kekayaan itu belum sepenuhnya bisa dinikmati seluruh rakyat penghuni negeri ini. Karunia Allah berupa kekayaan yang luar biasa melimpah ini belum sepenuhnya bisa dirasakan rakyat. Di negeri ‘surga’ ini masih banyak rakyat yang belum bisa menikmati indahnya ‘serpihan’ surga. Kesejahteraan masih menjadi kemewahan yang tidak terjangkau. Masih ada jutaan rakyat yang susah makan, sulit mendapat tempat tinggal yang layak, tidak berpendidikan, menderita sakit tanpa bisa berobat,  dan berbagai kesulitan hidup lainnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada tahun 2016 jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,01 juta orang (10,86 persen). Data lain menunjukkan, dari sekitar 260 juta jiwa penduduk Indonesia, jumlah penduduk miskin mencapai 30 persen, dan penduduk ‘hampi rmiskin’ mencapai 70 persen. Data Program Pembangunan PerserikatanBangsa-bangsa (UNDP) tahun 2016 menyebutkan, 140 juta Indonesia orang hidup dengan penghasilan kurang dari Rp 20.000 per hari, sebanyak 19,4 juta orang menderita gizi buruk, dan 5 juta anak tidak bersekolah.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa di negeri surga yang kaya sumber daya alam ini masih banyak warganya yang miskin dan hidup tidak sejahtera? Mengapa kekayaan yang melimpah tidak mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya? Banyak analis dan fakta bisa dikemukakan untuk menjawab pertanyaan itu. Namun dari sekian banyak analisis yang mengemuka, salahsatu yang menarik untuk dicermati adalah analisis yang menyatakan bahwa hal itu lebih disebabkan oleh kesalahan dalam pengelolaan kekayaan sumber daya alam serta ketimpangan dalam distribusi kesejahteraan. Artinya, potensi kekayaan yang ada sesungguhnya bisa menyejahterakan seluruh rakyat,  namun karena kesalahan dalam pengelolaannya maka kekayaan itu hanya menumpuk pada sebagian orang saja.

Ketimpangan Pendapatan

Fakta bahwa negeri ini kaya memang tidak bisa dipungkiri,  namun karena salah dalam mengelolanya maka kekayaan yang melimpah itu tidak sepenuhnya bisa dinikmati rakyat. Kesalahan dalam pengelolaan ini salah satunya tampak pada ketimpangan yang sangat mencolok pada distribusi kekayaan dan pendapatan. Data yang dikeluarkan International NGO Forum on Indonesia Develompment (Infid) dan Oxfam berkaitan dengan ketimpangan dan kesenjangan kesejahteraan penduduk Indonesia menyebutkan bahwa empat orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan lebih banyak dibandingkan kekayaan lebih 100 juta orang miskin di negeri ini. Empat orang milyader Indonesia memiliki kekayaan 25 milyar dollar AS atau lebih banyak dibandingkan harta 100 juta orang miskin yang hanya memiliki 24 milyar dollar AS. Data lain menyebutkanbahwa 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49 persen total kekayaan nasional.

Dalam skala lebih luas, data ketimpangan ini bisa terkonfirmasi dari angka penjualan mobil tahun 2016 mencapai lebih dari 1 juta unit mobil baru dan sepeda motor mencapai hampir 6 juta unit. Hal ini juga bisa dilihat data data jamaah umrah yang tahun 2016 mencapai lebih dari 700.000 orang, sedangkan antrean haji kalau tidak ada bonus tambahan kuota bisa mencapai puluhan tahun. Bayangkan, ketika jutaan orang masih sulit untuk mendapatkan sepiring nasi, setiap tahun jutaan mobil dan sepeda motor baru memenuhi jalan-jalan di negeri ini. Bayangkan, ketika masih banyak orang kelaparan, ratusan ribu orang berbondong-bondong ke tanah suci dengan biaya hingga puluhan juta rupiah setiap orangnya.

Ketimpangan kesejahteraan ini tentu akan berdampak luas pada berbagai tatanan kehidupan masyarakat. Yang pasti terjadi, proses pemiskinan akan terus berlanjut dengan korban semakin banyak orang. Artinya, yang miskin akan semakin miskin karena keterbatasan sumber daya sehingga kalah dalam bersaing, sementara yang kaya akan semakin kaya karena berbagai kemudahan dan keunggulan dalam persaingan.

Dalam kondisi demikian ini sesungguhnya peran terbesar untuk mengatasinya ada di tangan para pengelola Negara terutama pemerintah. Melalui berbagai kewenangan yang mereka miliki, ketimpangan kesejahteraan yang terjadi bisa dipangkas. Namun ketika para pengelola Negara masih terbelenggu penyakit korupsi akut, jangankan berharap bisa menyelesaikan masalah kesenjangan kesejahteraan rakyat, berharap mereka sembuh dari ‘sakitnya’ saja rasanya sulit. Ingat, dari anggaran E-KTP sebesar Rp 5,9 trilyun, yang dikorupsi sebanyakRp 2,3 trilyun. Luar biasa jahat !

Oleh karena itu, semua pihak harus bersama-sama bergerak mengatasi masalah ini dengan niat yang betul, pendekatan yang benar dan aksi yang tepat. Se-moga kejayaan bisa terwujud di Negeri Surga, Indonesia.

drh. Zainul Muslimin, Ketua Lazismu Jawa Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
ada pertanyaan?
Lazismu Jatim
Assalamualikum, adakah yang bisa saya bantu?