Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Siapapun Muslim tentu tidak suka disebut ahlul bid’ah, apalagi disebut inkarus sunnah. Sebaliknya orang Muslim menginginkan, bahkan mengklaim diri sebagai ahlus sunnah, sebagai orang yang memegang sekaligus menjalankan sunah2 Nabi Muhammad SAW hingga menginginkan dan mengklaim diri sebagai ‘Muhammadiyah’, sebagai pengikut setia Nabi Muhammad Saw.

Semua dan klaim tersebut di atas tentu akan menjadi fakta nyata dalam kehidupan keseharian kita ketika memang nampak dalam rangkaian detik ke detik, menit ke menit adalah praktek kehidupan yang bersandar kepada contoh dan keteladanan Rasulullah SAW.

Keteladanan yang luar biasa itu adalah bagaimana beliau Rasulullah SAW senantiasa memikirkan nasib umatnya sampai menjelang wafatnya. Sampai ajal menjelang, teladan pilihan Allah SWT itu senantiasa memikirkan nasib umatnya, resah, gelisah memikirkan nasib kita lebih dari kita memikirkan nasib kita sendiri. Ini kepedulian yang sungguh sangat dahsyat.

Tiga kata yang fenomenal, tentu kita semua hafal, ketika ajal menjemput, yang beliau ucapkan adalah “UMMATII….. UMMATII…. UMMATII”. Keteladanan ini justru seringkali tidak nampak dalam fakta nyata kehidupan kita karena yang ada dalam sikap laku kita adalah AKU….. AKU….. dan AKU. Pertanyaannya masih pantaskah klaim-klaim diatas itu ketika yang kita kembangkan justru sikap dan laku yang kesemuanya demi AKU, AKU, & AKU.

Tentu tidak hanya itu bagaimana teladan pilihan itu melakukan hal-hal yang sungguh sangat fenomenal. Begitu enteng dan mudahnya beliau SAW berbagi kepada orang lain. Apa yang sesungguhnya menjadi haknya saja terus saja dibagi kepada orang-orang disekelilingnya, yaitu para sahabat dan ummatnya. Seluruh harta rampasan perang yang sesungguhnya dijamin oleh Allah SWT menjadi hak beliau, itupun senantiasa dibagi habis. Beliau Rasulullah SAW memilih jalan kehidupan yang sangat-sangat sederhana. Ini adalah pilihan, bukan keterpaksaan.

Syari’at berbagi bahkan ditetapkan oleh Allah SWT menjadi salah satu syarat seseorang disebut beriman, disebut benar-benar beriman kepada Allah SWT. Syari’at berbagi ini pula menjadi salah satu syarat penting agar seseorang disebut “orang yang baik”, yaitu orang senantiasa menebar manfaat kepada orang lain.

Adakah bahkan berapa banyakkah yang sudah kita bagikan kepada orang-orang terdekat kita pada hari-hari kemarin atau pada setiap pagi ketika kita memulai meraih karunia kehidupan saat ini. Tetap bersemangat dan tak kenal lelah untuk senantiasa berbagi.

Astaghfirullah. Ada banyak orang-orang yang sangat dekat dengan kita yang membutuhkan uluran tangan dan empati kita karena faktanya nasib mereka tidak lebih baik dari yang kita nikmati saat ini. Walau kadang kita merasa sekaligus mempersepsi apa yang kita miliki saat ini juga sedang tidak dalam keberlimpahan. Tetapi sebagai orang yang senantiasa ingin mendapatkan maqom yang mulia di sisi Allah SWT yaitu TAQWA maka mesti ada kesungguhan untuk senantiasa mudah berbagi, mudah dan enteng berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit.

Semoga Allah SWT menjaga kita semua dalam karakter suka peduli dan gemar berbagi. Untuk itu semua LAZISMU senantiasa ada, meneguhkan upaya AKSI BERSAMA UNTUK SESAMA. Aksi Nyata Untuk Sesama, Bismillah.

Wallahu a’lam.

Drh. Zainul Muslimin, Ketua Lazismu Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *