drh. Zainul Muslimin : “Olah Raga, Olah Fikir dan Olah Hati”

Media sosial

Perasaan saya tiap hari sudah istiqomah mengikuti kegiatan olah raga. Akan tetapi berat badan ini tidak menyusut, malah sebaliknya bertambah melar. Lalu dimana salahnya. Setelah dianalisa dan dikaji berulang-kali dan secara mendalam ternyata saya betul-betul istiqomah mengikuti kegiatan olah raga orang lain, yaitu “menonton (pertandingan) olah raga”, sambil ngemil lagi. Makanya berat badan tidak menyusut tapi malah bertambah besar.

Semestinya kita turun ke gelanggang menggerakkan badan dengan berolah raga. Olah raga apa saja yang kita suka. Mulai dari sekedar senam, menggerakkan badan, berjalan kaki, lari-lari kecil, hingga sprint. Jika dilakukan secara rutin dan istiqomah maka akan membuat badan bugar, tubuh fresh, bisa bernapas dengan lega dan sirkulasi darah menjadi lancar. Kata orang, badan jadi enteng, tidak berat, otot tidak kaku, lemas dan selalu fit dalam berkegiatan apapun. Intinya adalah badan harus sering kita gerakkan, gerak badan atau olah raga, karena itu salah satu kebutuhan kita.

Tak hanya badan yang berolah raga, semua yang ada dalam tubuh kita, baik fisik maupun non fisik, juga harus bergerak. Termasuk fikiran pun harus bergerak. Jika fikiran tak bergerak maka kita akan selalu buntu jika menemui problematika hidup.
Kita tentu pernah mendengar anekdot bahwa otak orang Indonesia itu masih orisinil, asli dan gress, karena jarang digunakan untuk berfikir. Sedangkan otak orang Jepang atau orang Jerman sudah usang, tua atau bahkan lapuk, karena sering digunakan atau bahkan terlalu over dalam berfikir, sudah mencapai titik klimaks dalam berolah fikir.

Olah fikir, sebagai manifestasi kita dalam mensyukuri ciptaan Allah, yaitu otak. Otak harus berolah fikir, berfikir tentangNya, berfikir tentang ciptaanNya dan berfikir bagaimana agar hidup kita sesuai dengan kehendakNya. Jika hal itu rutin dan istiqomah kita lakukan, niscaya kita akan selalu cemerlang dalam hidup, tidak mudah menyerah, selalu ada solusi dalam menghadapi masalah, selalu menemukan hal-hal baru untuk diterapkan, dan selalu berada dalam kemajuan.

Tak cukup badan dan otak yang bergerak, hati pun perlu digerakkan. Hati yang beku dan mati menjadikan hidup ini hampa, tak bermakna, tak bisa bersimpati, tak mungkin berempati dan tak bisa merasakan rasa syukur yang begitu mendalam kepadaNya.

Kita juga perlu berolah hati, menjadikan hati sebagai mata, yang bisa menatap tajam, yang bisa bertatap halus, yang bisa merasakan situasi yang terjadi di sekitar kita dan bisa mengendalikan diri atas situasi yang terjadi. Mata hati yang bergerak akan selalu dapat merasakan denyut nadi kehidupan di sekitar kita, menyikapi secara bijak dan berbuat dengan ketulusan.

Berolah raga, berolah fikir dan berolah hati mestilah dilakukan secara istiqomah dan konsekuen. Namun sebaliknya, ternyata tak akan ada perubahan apa-apa, apalagi perubahan menuju yang lebih baik walaupun kita sudah istiqomah. Karena kita istiqomah dalam diam dan tidak bergerak, dengan kata lain istiqomah sebagai penonton. Faktanya, kita istiqomah tetap tak beranjak, masih tetap diam di tempat sambil berdecak kagum atau bahkan sambil marah-marah dengan sumpah serapah atas prestasi karya nyata orang-orang di sekitar kita yang terus bergerak bermetamorfosa menuju hidup lebih baik.

Ingat hanya orang-orang mati saja yang tak ber-gerak. Kata orang tua yang sedang berkelakar, “Wong mati ora obah, yen obah medeni bocah”. Oleh karena itu kita ingat dulu ketika mengikuti pelajaran biologi di bang-ku sekolah, bukankah salah satu ciri hidup itu adalah ber-gerak. Jika tak bergerak berarti mati. Jika bergerak harus istiqomah dan do the best. Fal ya’mal amalan sholihan. Mari tetap bersemangat dan terus bergerak, berolah raga, berolah fikir dan berolah hati. Semoga senantiasa sehat dan sukses.

(Ketua Lazismu Wilayah Jawa Timur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
ada pertanyaan?
Lazismu Jatim
Assalamualikum, adakah yang bisa saya bantu?