Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Fery Yudhi Antonis

“Kyai Dahlan, kami bosan dengan ngajinya, masa setiap hari ngajinya sama, yang dibaca sama saja, yang ditafsirkan sama, suratnya juga sama saja?” Kyai Dahlan menjawab dengan senyuman, “Bener wis paham kowe ? Bener wis hafal kowe ?”

“Enggih, sampun paham dan hafal kyai, bahkan di luar kepala saya.” Kyai Dahlan menambahkan, “Saya tanya lagi, sudah dipraktekkan ? sudah diamalkan ?”

Semua santri tertunduk diam dan membisu. Keesokkan harinya ketika para santri bersiap untuk mengaji Kyai Dahlan membawa peralatan seperti gayung, sabun, makanan, pakaian layak pakai dan alat tulis. Beliau pun berpesan “Bawa semua ini ke Alun-alun, cari anak anak yang terlantar, yang tidak ada yang ngurusi, yang tidak memiliki orang tua, mandikan mereka, beri pakaian yang layak, beri makanan ini dan beri mereka pelajaran.”

Ini adalah kisah yang menginspirasi Persyarikatan Muhammadiyah khususnya di bidang sosial, yang hingga detik ini telah memiliki 500-an Lembaga Kesejateraan Sosial Anak (LKSA) atau Panti Asuhan Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah di seluruh Indonesia. Di Jawa Ttimur sendiri ada kurang lebih 150-an. Sedangkan di Surabaya ada 22 LKSA Panti Asuhan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Spirit al-Ma’uun adalah spirit untuk peduli dan berbagi kepada sesama dengan tidak memandang suku, ras dan agama. Panti Asuhan memiliki peran strategis dalam Persyarikatan Muhammadiyah, tidak hanya sekedar menampung, memenuhi kebutuhan dasarnya, baik pangan maupun papan saja. Panti Asuhan Muhammadiyah punya tujuan khusus yang tidak dimiliki oleh lembaga di luar Persyarikatan Muhammadiyah, yakni anak asuh disiapkan untuk menjadi kader Persyarikatan untu masa yang akan datang.

Anak asuh didesain menjadi kader-kader militan yang siap menjadi pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah. Sudut pandang ini harus dipahami oleh semua pihak khususnya para pengelola Panti termasuk Majelis Pelayanan Sosial di semua tingkatan. Maka jika ada para santri yang lulus dari Panti Asuhan Muhammadiyah kemudian tidak kenal lagi dengan Persyarikatan Muhammadiyah, maka yang patut dievaluasi adalah Pengelolanya.

Analogi Ekstrimnya saya buat seperti ini. Anak anak panti selama 24 jam tinggal di panti Muhammadiyah/’Aisyiyah. Mereka beraktivitas, belajar, berorganisasi, berinteraksi, bersikap dan bersosial. Makan, minum dan tidur di Panti. Jika mereka lulus dari Panti kemudian tidak mau mengabdi dan berbakti kepada Panti maka itu adalah sebuah kesalahan fatal.

Oleh karena itu Majelis Pelayanan Sosial Muhammadiyah Kota Surabaya melakukan penguatan dan mengkategorikan tipologi panti antara lain ; Panti Pesantren, Panti Mandiri dan Panti Pesantren Mandiri. Di Surabaya sendiri Panti Asuhan Muhammadiyah/’Aisyiyah telah melakukan klasifikasi tipologi. Jika diprosentasekan lebih banyak cendrung ke Panti Pesantren dibanding Panti Mandiri. Namun ada juga yang mengambil tipologi sebagai Panti Pesantren Mandiri. Salah satu upaya untuk mendorong terwujudnya Panti Pesantren Mandiri, selain melakukan kajian dan perombakan kurikulum Panti, juga melakukan studi banding ke beberapa Panti yang cukup sukses menerapkan Panti berbasis Pesantren.

Mengenai kemandirian pun tidak luput dari upaya pengembangan. Pada bulan Juni 2017 yang lalu perwakilan Panti Asuhan Muhammadiyah Surabaya telah mengikuti pelatihan budidaya lele organik di Bumi Perkemahan Agromulia. Acara yang digelar oleh Majelis Pemberdayan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur itu sangat menarik dan unik.

Di Panti Asuhan Muhammadiyah/’Aisyiyah se-Surabaya sendiri sudah ada 4 panti yang menjalankan budidaya lele ini tetapi dengan pola atau model kolam yang berbeda-beda, antara lain Panti Kenjeran model kolam ditanam di atas tanah, seperi sebuah sumur mini berukuran diameter 1,5 meter dengan tinggi 2 meter. Panti Karangpilang seperti kolam pada umumnya namun yang menarik sumber airnya langsung dari sungai karena berdekatan dengan sungai rolak Karangpilang. Panti Gayungan membuat kolam dengan penyesuaian ukuran ikannya, seperti tepasiring persawahan, dan terakhir Panti Asuhan Bayi Rungkut Medokan kolamnya on the roof atau di atas atap lantai 4 gedung pantinya.

Itu adalah upaya yang digagas dan dikawal oleh Majelis Pelayanan Sosial Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya agar anak asuhnya menjadi pribadi yang siap terjun di masyarakat dengan daya saing yang mumpuni.

Program penguatan Panti Pesantren Mandiri ini tidak bisa berdiri sendiri. Di Persyarikatan Muhammadiyah ada Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqoh Muhammadiyah (LAZISMU). Lazismu harus digandeng sebagai mitra kerja bareng untuk merealisasikan mimpi besar ini. Jika sinergi ini bisa berjalan maka akan menjadi kekuatan yang dashyat.

 

Fery Yudhi Antonis, Ketua Majelis Pelayanan Sosial PDM Surabaya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *