Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Beberapa waktu lalu, sekitar bulan Maret 2017, Lazismu Jember mendapatkan informasi tentang adanya seorang ibu janda yang dalam kondisi dhuafa harus berjuang seorang diri guna memenuhi kebutuhan hidup bersama 4 (empat) orang anaknya yang masih kecil. Anaknya yang tertua memang bisa dikatakan cukup dewasa, namun karena pendidikan terakhir sekolah dasar (SD), dia tidak memiliki pekerjaan tetap.

Informasi awalnya diperoleh dari rekan Muhammad Rifki di Grup FB Info Warga Jember, selanjutnya Tim Cross check di lapangan. Setelah menanyakan kepada bu Kades dimana Janda miskin bersama keempat anaknya ini tinggal maka Tim segera menuju ke dusun Krajan Desa Karang Kedawung Kec. Mumbulsari – Kab. Jember.

Ibu Nabia (45 tahun) adalah sosok yang luar biasa, seorang ibu yang perkasa. Bayangkan, Nabia warga dusun Krajan Desa Karang Kedawung Kec. Mumbulsari sejak dua tahun yang lalu harus menghidupi ke-4 anak-anaknya seorang diri. Padahal pekerjaannya adalah buruh tani yang tidak setiap hari bekerja. Seringkali juga bekerja “agelpok” (baca: mencari sisa gabah disaat ada panen), itupun sebenarnya sangat jauh dari cukup walau hanya untuk makan sehari-hari.

Di rumah yang amat sangat sederhana, berukuran 4 x 8 m, berdindingkan “tabing” (anyaman bambu) serta berlantaikan tanah ini, Nabia harus tinggal berdesak-desakan bersama keempat anaknya. Yang pertama bernama Haderi (22 tahun), belum menikah, dan juga tidak memiliki pekerjaan tetap. Kadang berkerja saat ada yang mengajakanya menjadi buruh tani atau bangunan dan seringkali menganggur dirumah. Apalagi dengan pendidikan SD, tentu sangat sulit berharap pekerjaan yang mapan,

Anak keduanya perempuan, yaitu Reni (16 tahun), saat ini masih bersekolah di SMP Ibrahimy Mayang kelas IX. Sedangkan yang lebih memprihatinkan adalah anaknya yang ke-3 yaitu Roni (12 tahun) yang masih bersekolah di SD Karangkedawung kelas 5 ini mengalami pembengkokan tulang punggung saat usianya 3 tahun. Waktu itu Roni jatuh dari sepeda saat dibonceng ayahnya. Dan yang terakhir, tentunya yang bisa jadi saat ini belum begitu kenal persis dengan wajah almarhum ayahnya. Anak Nabia yang terakhir bernama Fakih, usianya baru menginjak 3 tahun dan belumlah sekolah.

Dengan mata berkaca-kaca Bu Nabia menyampaikan: “Saya ucapkan terima kasih yang begitu besar kepada bapak-bapak dari lazismu Jember, semoga yang Maha Kuasa memberi ganti yang lebih banyak”, katanya sambil tak kuasa menahan haru,

Karena selain memberi biskuit makanan tambahan bagi anaknya yang masih sekolah, Lazismu Jember dan Kades Karang Kedawung, Ami Pujiwati, SP, juga memberikan santunan uang untuk kebutuhan sehari-hari yang diserahkan langsung bersama Manager Lazismu Jember, Abdul Khamil.

Kades Karang Kedawung, Ami Pujiwati, SP juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Lazismu Jember yang telah peduli kepada warganya, “Bu Nadia memang menjadi prioritas kami untuk dibantu, dan kami sangat bersyukur apabila Lazismu Jember ikut membantu meringankan beban beliau untuk mememnuhi kebutuhan hidup beserta anak-anaknya”, katanya menjelaskan. Semoga bermanfaat. (Khamil-Jember).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *