Kepulangan Jumari Dari Pontianak ke Probolinggo Disambut Gembira Dengan Konvoi Sepeda Motor Para Pemuda Desa

Media sosial

Betapa bahagianya Jumari (31 tahun) pada hari ini (21/02/19). Bersama Lazismu ia bisa pulang ke kampung halamannya di dusun Sumur, Desa Brabe, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, setelah setahun merantau dan hidup terlunta-lunta di Pontianak, Kalimantan Barat.

Warga desa dan keluarga menyambut kedatangannya dengan gembira dan sukacita. Bahkan sepanjang perjalanan dari kawasan Pendil menuju ke desanya Jumari dikawal sekitar 40-an sepeda motor yang terdiri dari relawan Muhammadiyah dan Laskar Pemuda Laok Curah (Pemuda Lacor) Brabe. Siapakah Jumari ?

Sebagaimana diberitakan oleh pantura7.com bahwa Jumari adalah seorang pemuda dari Desa Brabe Kabupaten Probolinggo yang pergi merantau ke Pontianak Kalimantan Barat untuk bekerja. Namun nasib malang menimpanya. Pria yang bekerja sebagai tukang bangunan ini justru terserang penyakit aneh dan sulit disembuhkan saat merantau.

Dari berbagai informasi yang berhasil dihimpun, Jumari bekerja di Kalimantan Barat sejak awal tahun 2018 silam. Berbekal pengalamannya sebagai tukang bangunan, ia nekad merantau ke Pulau Kalimantan dengan harapan mampu memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya.

Harapan Jumari ternyata tak sesuai dengan kenyataan. Nasibnya menjadi suram sejak awal tahun 2019. Bermula saat Jumari memancing ikan di sebuah sungai, tak jauh dari tempatnya bekerja. Sepulangnya dari memancing, lambat laun ada kelainan pada kulit tubuh Jumari.

Kelainan pada tubuh Jumari kian menjadi. Kulit tubuh pria berkulit sawo matang itu mengelupas seperti tersiram panas. Selain itu, terdapat bercak-bercak kemerahan, terutama di bagian punggung. Penyakit ini membuat Jumari lemas dan tak bisa beraktifitas normal seperti biasanya.

“Teman se-kontrakannya, sudah membawa Jumari berobat ke rumah sakit di sana, tapi tidak membuahkan hasil. Ketika dibawa ke ‘orang pintar’, dikatakan bahwa penyebab sakitnya itu karena hasil dari perlakuan dia ke pohon bringin,” kata kerabat Jumari, Bad Kamal (26 tahun) menjelaskan.

Hingga saat ini, Bad menambahkan, Ia dan sejumlah relawan atas persetujuan keluarga tengah berusaha untuk memulangkan Jumari dari Kalimantan Barat ke rumahnya. Segala cara akan ditempuh agar pahlawan rumah tangga itu bisa kembali ke kampung halamannya sesegera mungkin.

“Kasihan orang tuanya, apalagi kondisi ekonomi keluarganya memang benar-benar dibawah rata-rata. Untuk makan saja masih pontang panting kerja ke sana ke mari, apalagi biaya untuk memulangkan anaknya,” tutur Bad.

Nasib Jumari, tutur Bad, kian lengkap karena instansi tempat ia bekerja justru tidak peduli. Alhasil, biaya perawatan medis Jumari yang saat ini dirawat di sebuah rumah sakit di Pontianak, ditanggung sendiri. Sementara kondisi kesehatan Jumari kian memburuk. “Penyakitnya itu mengeluarkan bau kurang sedap, bahkan ada luka yang sudah digerogoti ulat,” jelasnya.

Jika sudah berhasil dipulangkan, imbuh alumnus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini, ia berharap ada dermawan yang bersedia membantu proses pengobatan Jumari. “Rumah sakit di Kalimantan Barat, sudah tidak sanggup mengobati penyakitnya. Harapan saya, nanti ada uluran tangan yang membantu biaya pengobatan lanjutan setibanya di rumahnya,” pungkas Bad.

Lazismu Bantu Pemulangan Jumari

Gayung pun bersambut, setelah menerima kabar, Lazismu Kabupaten Probolinggo bersedia membantu kepulangan Jumari dari Pontianak menuju ke Probolinggo. Ahmad Ridho Pambudi, Ketua Lazismu Kabupaten Probolinggo pun segera berkoordinasi dengan keluarga Jumari di desa dan juga kerabat Ridho yang ada di Pontianak.

Lazismu menanggung biaya pesawat dari Pontianak ke Yogyakarta bagi Jumari dan pendampingnya serta ongkos travel dari Yogyakarta ke Surabaya. Jumari harus didampingi 2 orang pendamping dari Rumah Sakit mengingat kondisi tubuh dan penyakitnya yang perlu mendapat perhatian ekstra. Apalagi tidak mudah menaikkan pasien penderita penyakit berat ke pesawat tanpa didampingi pendamping.

Dari RSUD Sultan Syarief Mohammad al-Kadrie ke Bandara Pontianak Jumari diantar dengan ambulan. Jumari bisa terbang ke Jawa juga berkat bantuan ‘pengawalan’ dari Lazismu Kalbar yang membantu melobi pihak bandara Supadio.

Sampai di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, Jumari berganti kendaraan travel untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya ke kota Surabaya. Dari kota Surabaya ia dijemput oleh Ridho beserta rombongan Lazismu guna diantarkan menuju rumahnya di Brabe Kabupaten Probolinggo.

Bahkan di kawasan Pendil sudah mennggu sekitar 40-an sepeda motor yang terdiri dari relawan Muhammadiyah dan Laskar Pemuda Laok Curah (Pemuda Lacor) Brabe mengiringi rombongan Lazismu dan Jumari dalam perjalanan ke rumahnya. Arak-arakan pun berjalan dengan riuh dan meriah bagaikan kampanye pemilu.

Sampai di perbatasan desa Brabe, masyarakat dan aparat sudah menanti kedatangan rombongan Lazismu dan segera menyambut kedatangan Jumari. Betapa bahagia dan gembira keluarga Jumari bertemu dengannya setelah setahun lebih tidak bersua. Jumari pun segera beristirahat di tempat tidur begitu masuk ke rumahnya. Para tetangga pun berdatangan untuk menengok Jumari yang baru pulang dari merantau. (Adit/Rdh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
ada pertanyaan?
Lazismu Jatim
Assalamualikum, adakah yang bisa saya bantu?