Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Hidup sebatang kara terkadang sangat menyiksa, terlebih di usia senja. Di saat selayaknya sudah menikmati masa tua masih disibukkan dengan aktifitas yang biasa dilakukan oleh insan yang masih kuat.

Hal itulah yang dialami oleh ibu Arti B. Sumo, atau dikenal dengan bu Sumo, warga RT-35 RW-9 Lempeni, Tempeh Kabupaten Lumajang. Ibu yang berusia 78 tahun ini hidup sebatang kara. Ia menikmati masa tuanya dalam kesendirian. Mencari makan sendiri dan bekerja sendiri. Namun untuk tidur, bu Sumo menumpang di rumah cucunya, Sahid yang bekerja sebagai buruh dan beristrikan Rini. Sedangkan anak bu Sumo satu-satunya sudah meninggal dunia.

Bu Sumo bekerja memijat (Pijat) keliling dari rumah ke rumah, hingga menelusuri desa-desa, bahkan antar kecamatan dan baru pulang setelah dua sampai tiga hari berpindah tempat untuk memijat.

Pekerjaan itu sudah biasa ia lakoni sejak lama. Memang keahlian ibu yang tinggal di Lumajang ini disukai banyak orang. Banyak yang bersimpati padanya karena pijatannya lumayan enak dan membuat yang dipijatnya merasa bugar.

Namun hal itu tidak sejalan dengan kondisi tubuhnya saat ini. Kondisi kesehatan bu Sumo kian hari makin menurun, bahkan pembicaraannya dan pendengarnya sudah terganggu. Pelanggan sebenarnya sudah mulai menurun, tapi ia terus semangat bekerja dan tidak mau meminta-minta belas kasihan dari orang lain.

Hingga suatu ketika bu Sumo pamit melayani pijat dan juga pergi belanja dan berjualan di pasar pada hari kamis tanggal 8 Februari 2018. Keluarga sudah paham jika bu Sumo punya kebiasaan jarang pulang. Keluarga pun tak menghiraukan karena mengira bahwa bu Sumo seperti biasa bekerja memijat dan suka menginap di rumah pelanggan.

Langkah bu Sumo keluar rumah memang tidak semata untuk memijat pelanggan namun ia juga berjualan peyek (keripik kacang/teri) berkeliling pasar. Saking semangatnya, ia berkeliling dari rumah ke rumah, dari pasar ke pasar, naik angkutan melintas kecamatan dan kabupaten.

Selasa malam, 13 Februari 2018, ketika hendak pulang bu Sumo ragu-ragu dan lupa hendak pulang kemana. Parahnya ia pun tak tahu dimana lokasi kakinya menginjak. Ketika ada bis lewat, ia terpaksa ikut tawaran naik oleh kondektur karena kebingungan.

Sayangnya ia salah masuk ke dalam bis yang bertujuan Jember – Malang. Ketika ditanya tujuannya oleh kondektur bis, bu Sumo tidak bisa menyebutkan. Ia pun akhirnya diturunkan di kota Pasuruan. Sambil membawa tas dan barang dagangannya bu Sumo diantar teman kondektur ke kantor Lazismu Kota Pasuruan.

Setelah ditanya dengan sabar dan cermat oleh Agus Salim, Manager Lazismu Kota Pasuruan, ternyata ibu yang sudah kelelahan ini teringat bahwa di dalam dompetnya ada fotocopy identitasnya. Ia pun menyerahkan copy identitas itu kepada Lazismu.

Malam itu juga Agus Salim segera berkoordinasi dengan Lazismu Probolinggo dan Lumajang untuk proses pemulangan bu Sumo. Bu Sumo pun akhirnya pulang dengan naik bis. Oleh Agus Salim ia dititipkan ke kondektur agar jika nanti turun di Terminal Probolinggo bisa langsung oper bis jurusan ke Lumajang. Di terminal Probolinggo sudah menanti Irfan, Lazismu Probolinggo untuk membantu bu Sumo menuju ke bis tujuan Lumajang.

Sampai di terminal tujuan, oleh Muari, Ketua Lazismu Lumajang, bu Sumo dibawa menuju ke desanya. Muari berusaha menghubungi kerabat bu Sumo termasuk aparat Desa melalui telepon. Maklum karena pukul 01.00 WIB dinihari dikhawatirkan terjadi sesuatu. Upaya menghubungi kerabat dan aparat desa setempat ternyata tidak berhasil.

Akhirnya Muari mengantar bu Sumo menelusuri jalanan desa guna mencari rumah cucunya. Setelah berjalan beberapa saat, kemudian bertemu dengan tetangga bu Sumo. Sampailah bu Sumo ke rumah sang cucu dengan selamat.

Alhamdulillah, bu Sumo merasa lega walau tadinya sempat gelisah. Tetangga dan kerabat di sekeliling rumah terkejut karena bu Sumo pulang diantar Lazismu. Sahid, cucunya pun terkejut. Mereka heran, tak biasanya bu Sumo tersesat sampai sejauh itu, bahkan hingga 80 km. Setelah menitipkan bu Sumo kepada kerabat dan tetangga, Lazismu segera pamit undur diri.

Menjadi pelajaran berharga bagi kita semua agar memperhatikan orang tua sehingga tidak tersesat dan terlantar hingga begitu jauh, walaupun orang tua kita sering bepergian. (Muari/Agus/Adit)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *