Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

BENCANA selalu menghadirkan dukacita dan nestapa. Pun demikian dengan bencana gempa bumi dengan magnitudo 7,4 skala richter, yang disusul terjangan tsunami dan likuifaksi di Provinsi Sulawesi Tengah, Jumat 28 September 2018 lalu. Musibah yang terjadi dikala magrib itu benar-benar meluluhlantahkan Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi, Sulteng.

Guncangan hebat dari dalam perut bumi, yang disusul gulungan ombak setinggi 3 meter dan likuifaksi dalam sekejap waktu mampu memporak-porandakan rumah, gedung, dan berbagai fasilitas umum. Bencana juga mengakibatkan jatuhnya ribuan korban jiwa, dan puluhan ribu warga mengungsi.

Selang beberapa saat pasca peristiwa yang memilukan hati itu terjadi, dan tersiar ke berbagai media online, media sosial maupun elektronik, tim SAR dan relawan dari beragam kalangan mulai bergerak menuju Sulteng.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur melalui MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center)-MPKU (Majelis Pembina Kesehatan Umum) yang disokong penuh oleh Lazismu pun segera menerjunkan relawan ke medan bencana.

Sebanyak sepuluh relawan yang beranggotakan tujuh tenaga medis asal RS Muhammadiyah Lamongan dan tiga relawan dengan keahlian manajemen posko dikirim untuk menjalankan misi kemanusiaan menolong warga Sulteng. Mereka adalah Zaenal Abidin, Karsim, M Agus Asyari, Rounaqul Fahmi, Ali Efendi, dr Dentino Wili, Syafii Abdul Karim, Rudianto, Dini Noviani dan dr Zuhdiyah Nihayati.

Kesepuluh relawan Muhammadiyah Jatim itu terbang dari Bandara Juanda Sidoarjo, Jatim menuju Mamuju, Sulawesi Barat pada Ahad (30/9/2018) malam. Setelah menempuh perjalanan udara selama satu hari, relawan Muhammadiyah Jatim itu tiba di Bandara Mamuju. Mereka kemudian menuju Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Mamuju. Tepat pukul 20.00 WITA, relawan Muhammadiyah Jatim sampai dan bergabung dengan relawan MDMC Mamuju serta relawan Muhammadiyah lainnya. Selepas itu, para relawan kemudian menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk aktivitas tanggap darurat di Kota Palu.

Satu jam berselang, tepatnya pukul 21.00, relawan gabungan MDMC Jatim, Mamaju dan lainnya berangkat menaiki lima armada menuju Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu – lokasi pos koordinasi (poskor) MDMC Indonesia.

Berbagai peristiwa mengiringi langkah para relawan dalam perjalanan menuju Kota Palu. Rudianto, salah satu rela-wan Muhammadiyah asal Jatim menceritakan, pada awal ke-berangkatan relawan gabungan Muhammadiyah Jatim, Mamu-ju dan lainnya tidak menemui kendala yang berarti. Akses jalan utama memasuki Sulteng kondisinya masih aman terkendali. Relawan hanya harus melewati jalan yang dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit. Aliran listrik juga masih menyala.

Suasana gawat darurat pasca bencana baru terasa ketika relawan Muhammadiyah memasuki perbatasan Mamu-ju-Donggala, Sulteng. Akses jalan mulai sulit dilalui. Jalan ber-gelombang, retak-retak, berluang dan lainnya. Ditambah lagi aliran listrik mulai padam. Keadaan kian mencekam dirasakan oleh para relawan ketika tiba di Polres Pasang Kayu pukul 22.00 WITA. Pasalnya, para relawan dihantui akan maraknya aksi perjarahan oleh warga. Setiap kali mobil yang mengangkut logistik melintas, warga pun menjarahnya. Itu lantaran warga butuh bantuan, sementara tidak ada pasokan bantuan.

Setiap relawan yang datang membawa logistik diharuskan melapor ke Polres guna mendapatkan pengawalan. Langkah antisipasi itu dilakukan oleh aparat kepolisian guna mencegah aksi penjarahan. Sayangnya, relawan Muhammadiyah tidak mendapatkan pengawalan dari polisi karena jadwal sudah berakhir pada pukul 16.00 WITA. Setiap harinya, aparat kepolisian hanya tiga kali melakukan aktivitas pengawalan, yakni di pagi hari pukul 08.00-09.00. Lalu siang pukul 13.00-14.00, dan terakhir sore pukul 16.00. Selepas itu relawan disarankan untuk menunggu di pos.

Melihat situasi itu, para relawan kemudian bermusyawarah guna menentukan langkah yang diambil. Apakah harus menunggu hingga pagi untuk mendapat pengawalan, atau terus melanjutkan perjalan.

Hasilnya, rombongan relawan Muhammadiyah asal Jatim, Mamuju, dan lainnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya menuju Unismuh Palu tanpa pengawalan aparat kepolisian. Relawan Muhammadiyah kemudian bertolak dari Polres Pasang Kayu menuju Kota Palu pukul 23.00.

“Sebelumnya, kami disarankan sebaiknya berangkat tengah malam, dan sebelum Subuh harus sudah tiba di Kota Palu. Atas informasi itu, kita pun memberanikan diri menerobos masuk ke Kota Palu. Modalnya hanya bismillah saja. Niat kita kan baik. Jadinya kita berserah diri kepada Allah SWT,” ungkap Dava-sapaan karib Rudianto.

Selang beberapa menit selepas meninggalkan Polres, rombongan relawan dihadapkan dengan situasi Sulteng yang porak-poranda pasca bencana menerpa. Sepanjang jalan dari Donggala menuju Kota Palu terhampar pemandangan reruntuhan rumah, bangunan dan rusaknya berbagi fasiltas umum. Juga padamnya aliran listrik yang membuat kondisi sekitar gelap-gulita. Jaringan komunikasi pun terputus. Tak pelak perasaan was-was berkecamuk di hati para relawan.

Syukur, setelah menempuh perjalanan darat cukup melelahkan, relawan Muhammadiyah Jatim beserta lainnya akhirnya sampai di Unismuh Palu, Selasa (2/10/2018). Meraka tiba pukul 02.05 WIT, dan langsung disambut oleh komandan Poskor Pak Heru. Selepas itu, relawan kemudian beristirahat sejenak untuk memulihkan diri.

Pada pagi harinya, seluruh relawan Muhammadiyah mengikuti brefing untuk menyusun tugas kebencanaan. Ketika sedang rapat koordinasi itu, para relawan dikejutkan dengan terjadinya gempa susulan. Tak pelak, mereka pun bergegas menjauh dari bangunan dan mencari titik aman. Para relawan kemudian melanjutkan agendanya.

Buka Klinik Darurat

Selepas berkoordinasi, relawan Muhammadiyah Jatim khususnya, langsung bergerak menjalankan tugas. Relawan medis RSM Lamongan, misalnya, segera membuka klinik darurat di teras Gedung FAI Unismuh Palu. Pendirian klinik di bawah asistensi dr Zee – panggilan akrab dr Zuhdiyah Nihayati, dan dikomando oleh M. Buyung. “Klinik darurat tersbut dibuka untuk memberikan pelayanan kesehatan buat warga korban gempa dan tsunami,” kata dr Zee.

Setelah membuka klinik, dr Zee bersama tim medis RSM Lamongan lainya melanjutkan aktivitasnya melapor ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu, malakukan assesment dan berkordinasi dengan beberapa rumah sakit yang ada di Kota Palu. Tujuannya untuk mengantisipasi pasien rujukan dari Klinik Darurat MDMC Indonesia.

Tak mau ketinggalan, relawan SAR MDMC Indonesia juga turun ke lapangan membantu proses evakuasi korban. Sedangkan relawan bidang logistik membuka dapur umum. Tujuannya untuk menyiapkan berbagai kebutuhan logistik buat korban yang mengungsi.

Usai menjalankan aktivitas menolong sesamanya, pada sore harinya, seluruh relawan MDMC Indonesia pun kembali ke poskor untuk beristirahat sejenak dan memulihkan kondisi. Juga untuk koordinasi terkait penenganan kebencanaan pada hari selanjutnya.

Keesokan harinya, Rabu (3/10/2018), relawan MDMC Indonesia mulai mendistribusikan bantuan kepada warga sekitar poskor. Bantuan berupa paket sembako berisi mi instan, air mineral gelas, dan 5 kilogram beras itu dibagikan kepada 87 kepala keluarga (KK) yang terdata di Poskor MDMC Indonesia.

Rudianto, relawan asal MDMC Jatim menerangakan, paket sembako yang dibagikan kepada warga itu adalah bantuan yang dikirim Lazismu dari Gorontalo, Pare Pare. Juga bantuan yang berasal dari Pelni. “Semoga bantuan bisa mencukupi kebutuhan pangan warga selama sepekan. Sambil menunggu bantuan lainnya tiba”.

Pada hari yang sama, relawan medis RSM Lamongan terus memberikan layanan kesehatan buat warga Kota Palu. Baik dilakukan di klinik darurat maupun dilakukan dengan berkeliling ke pos-pos pengungsian.

Setelahnya, pada Kamis (4/10/2018), relawan medis Muhammadiyah Jatim asal RSM Lamongan kembali berkeliling memberikan layanan kesehatan bagi warga korban gempa dan tsunami. Kali ini, pelayanan dilakukan sambil berjalan kaki dari pos ke pos pengungsian yang ada di sekitar Unismuh Palu.

Hal itu terpaksa dilakukan lantaran mobil yang sedianya dipakai berkeliling memberikan layanan kesehatan mobile kehabisan bahan bakar. Maklum, stok bensin sedang langka pasca bencana.

“Alhamdulillah, sampai sore hari ini relawan medis MDMC Indonesia bisa memberikan layanan kesehatan mobile, dan bisa menangani 45 pasien,” terang dr Dentino Willi.

Saat bertugas itu, dr Willi beserta perawat RSM Lamongan seperti Karsim, M Agus Asyari, Rounaqul Fahmi, Ali Efendi, dan Syafii Abdul Karim.

Di tempat terpisah, Tim Urban SAR MDMC Indonesia bersama dengan tim SAR Basarnas dan lainnya berhasil menemukan dua jenazah yang tertimbun reruntahan Hotel Roa Roa Palu.

Dua jenazah yang berhasil dievakuasi diketahui merupakan atlet paralayang asal Kota Bandung, dan atlet paralayang asal Korea Selatan. Kedua jenazah yang telah dikenali itu kemudian dibawa ke rumah sakit setempat.

“Update 12.38 WITA. Melaporkan dari tim Usar CSSR MDMC berhasil melakukan evakuasi 2 jenazah di reruntuhan Hotel Roa Roa. Operasi gabungan dilakukan dengan TNI, BASARNAS dan segenap relawan lainnya,” kata Yocki Asmoro, relawan MDMC Indonesia menginformasikan.

“Ketika terjadinya bencana, kedua atlet paralayang itu sedang berada di hotel. Keduanya merupakan tamu yang menginap di hotel tersebut”.

Yocki berharap, selepas proses evakuasi dua jenazah ini, semua korban yang masih tertimbun reruntuhan Hotel Roa Roa segera bisa diketemukan. “Masih ada dua atlet paralayang yang diketahui menginap di hotel dan belum diketemukan”.

Setelah lelah seharian beraktivitas menjalankan misi kemanusiaan, sore harinya, seluruh relawan MDMC Indonesia pun kembali ke Poskor di Unismuh untuk beristirahat dan melakukan rapat koordinasi.

Kemudian pada pagi harinya, Jumat (5/10/2018), relawan MDMC Indonesia kembali bergerak mendistribusikan paket sembako kepada warga Desa/Kecamatan Lumbu Dolo, Kabupaten Donggala. Sebanyak 100 paket sembako dikirim ke lokasi yang belum tersentuh bantuan. Relawan pun harus menempuh perjalanan sejauh 80 kilo meter untuk bisa sampai di lokasi menggunakan dua unit mobil Strada.

Sehari kemudian, Sabtu (6/10/2018), relawan MDMC Indonesia kembali mendistribusikan logistik. Kali ini, logistik berisi paket sembako dikirim ke dua titik lokasi sekaligus menggunakan dua mobil Strada dan Avanza. Dini Noviani menerangkan, titik pertama paket sembako didistribusikan kepada warga Kelurahan Pengawu, Kota Palu, Sulteng. Sebanyak 300 paket sembako dibagikan di lokasi tersebut.

Kemudian titik kedua, paket sembako didistribusikan kepada warga Sigi, Sulteng. Sebanyak 100 paket sembako didistribusikan di lokasi yang berjarak 54,3 kilometer dari Poskor MDMC Indonesia. “Alhamdulillah, kondisi aman dan telah terkendali. Tanpa pengawalan dari aparat pun bantuan paket sembako tetap bisa didistribusikan dengan lancar oleh tim MDMC,” tutur Dini, guru SDM 4 Kota Batu.

Tak berhenti di situ saja, empat relawan medis MDMC Indonesia harus hilir mudik naik helikopter milik TNI Angkatan Darat (AD) untuk melakukan pelayanan kesehatan pada warga. Mereka adalah dr Zuhdiyah Nihayati dan dr Dentino Willi, keduanya dari RS Muhammadiyah Lamongan, serta dr Ershad A manggala dan dr Silvyani.

Rupanya mereka diminta oleh Letkol Ketut, dokter TNI AD, untuk bersama TNI melakukan dropping logistik sekaligus pelayanan kesehatan ke beberapa titik lokasi yang masih terisolasi dan hanya bisa dijangkau menggunakan helikopter. Misi bersama TNI itu dilakukan selama tiga hari.

Pada hari pertama, Sabtu (6/10/2018), dr Zee menerangkan bahwa operasi dilakukan di Desa Tondo, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala. Kemudian hari kedua berangkat ke Desa Lende, Kabupaten Donggala. “Nah, hari ketiga (hari ini) kita memberikan pelayanan kesehatan ke Desa Nemo, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi,” terangnya, Ahad (9/10/2018).

Sementara dr Willi menceritakan pengalamannya ketika ikut dropping logistik dan memberikan pelayanan kesehatan ke Desa Tondo yang lokasinya berada dipesisir alias di pinggir laut tersebut.

Dia mengungkapkan, keadaan warga memang benar-benar butuh bantuan logistik, dan pelayanan kesehatan. Sebab hingga kini daerah tersebut belum tersetuh distribusi bantuan. Juga banyak warga yang mengeluh mengalami gangguan kesehatan. “Satu warga mengalami patah tulang dan segera kita transfer ke RS Wirabuana untuk mendapatkan penanganan medis,” terangnya.

Selain itu, lanjut dr Willi, relawan medis MDMC Indonesia juga menangani bayi yang lahir prematur diusia kandungan 7 bulan. “Bayi tersebut masih berusia 14 hari dan akhirnya ditransfer ke RS Undata,” tandasnya.

Sehari berselang, Senin (10/10/2018) pagi, enam relawan MDMC Indonesia bergerak melakukan dropping logistik sembari memberikan pelayanan kesehatan buat warga Desa Oti, Kecamatan Sindue Tabata, Kabupaten Donggala, Sulteng.

Dokter Dentino Willi, Ali Efendi, Rounaqul Fahmi, Rudianto, Safi’i Abdul Kharim, relawan medis asal RS Muhammadiyah Lamongan ditemani oleh Ardan Lele Mapuji dan Arik, relawan SAR berangkat ke desa menaiki dua mobil Strada. Desa tersebut lokasinya berjarak 80 kilo meter dari Unismuh Palu.

Relawan berangkat membawa serta logistik berupa air mineral 10 dus, beras 250 kilo gram dan mi instan 6 dus untuk dibagikan ke warga.

Dini Noviati, berdasar cerita Ardan Lele Mapuji menerangkan, berbagai kendala dihadapi oleh relawan MDMC untuk bisa sampai di desa. Selain relawan harus menempuh perjalanan darat selama satu setengah jam lebih, mobil yang dipakai oleh relawan MDMC Indonesia sempat mengalami ban bocor. “Itu terjadi karena kondisi jalan yang nggak mulus dan medan juga tidak bersahabat,” ungkap Dini. Untungnya, kata Dini, relawan MDMC Indonesia membawa ban serep alias ban cadangan di mobil yang mereka tumpangi.

Setibanya di desa, relawan MDMC Indonesia langsung bergerak mengunjungi 3 pos pengungsian yang berada di desa tersebut. “Untuk pos pertama, relawan tidak perlu susah payah untuk sampai di titik lokasi karena tempatnya masih bisa dilalui mobil,” terangnya.

Sementara untuk bisa sampai ke posko kedua dan ketiga, sebut Dini, relawan harus melakukan penelusuran dengan berjalan kaki sejauh 1 kilo meter masuk ke hutan. “Dua pos itu berada di atas bukit. Jadinya relawan harus berjalan kaki masuk hutan untuk bisa sampai,” paparnya.

Dini menyebutkan, kebanyakan warga desa memilih mengungsi ke perbukitan karena trauma dengan masih seringnya gempa. “Rumah warga tidak hancur. Tapi mereka khawatir tidur di rumah karena di Sulteng masih sering terjadi gempa,” pungkasnya.

Setelah berjibaku di medan bencana selama sepuluh hari, relawan pertama yang dikirim Muhammadiyah Jatim untuk manjalankan misi kemanusiaan membantu korban gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulteng akhirnya ditarik pulang, Selasa (9/10/2018).

Zaenal Abidin, Karsim, M Agus Asyari, Rounaqul Fahmi, dan Ali Efendi, dr Dentino Willi, Syafii Abdul karim, Rudianto, Dini Novianti dan dr Zuhdiyah Nihayati ditarik pulang karena masa tugasnya telah berakhir.

“Penarikan ini dilakukan tidak lain karena masa tugas kesepuluh relawan itu telah berakhir. Juga untuk menjaga ritme penanggulangan bencana yang mengharuskan ada pergantian relawan,” kata Ketua MDMC PWM Jatim M Rofii.

Sebagai gantinya, PWM Jatim melalui MPKU-MDMC yang disokong penuh oleh Lazismu memberangkatkan delapan medis yang berasal dari RS UMM (1 dokter dan 3 perawat) dan RS Ahmad Dahlan Kediri (1 dokter dan 3 perawat).

Kedelapan relawan itu adalah Zainul Arifin, Didik Bahrur Rokhim, Johan Iskandar Pradana, dan Imam Fitrianto Fat-khur Rohman. Ada pula Nur Aini, Ki Ageng Nico PN, Sandy De-wanto dan Satria Candra Kusuma. Mereka berangkat menggu-nakan penerbangan komersil Surabaya-Palu pukul 09.00 WIB.

Setibanya di Palu, relawan medis asal Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) terlibat operasi pelayanan kesehatan bersama prajurit TNI Angkatan Laut (AL) ke Desa Labean, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) yang kondisinya masih terisolasi, Rabu (10/10/18).

Ketiga relawan medis RS UMM yang beranggotakan dr Ki Ageng Nico dan dua perawat: Sandy Ewanto dan Imam Fitrianto, berangkat pukul 00.01 menaiki Kapal TNI AL “Birang” menuju desa. Operasi medis ke Desa Labean itu dipimpin oleh Letkol Laut K drg Ketut Triwanto.

“Kita ke sana naik kapal milik TNI AL karena satu-satunya jalur darat untuk sampai sana terputus ketika gempa dan tsunami. Jadinya jalur tidak bisa dilewati oleh kendaraan roda empat,” terang dr Nico.

Setelah menempuh perjalan laut sekitar 6 jam, Kapal TNI AL Birang akhinya tiba di tepian laut Desa Labean. Lantaran tidak ada dermaga untuk bersandar, tim pun harus dijemput kapal motor milik nelayan untuk bisa sampai daratan. Para relawan kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa.

Begitu tiba di lokasi tujuan, dr Nico bersama dua perawat RS UMM langsung memberikan pelayanan kesehatan buat warga. “Tercatat ada 237 pasien dilayani oleh relawan medis RS UMM ini dengan rincian 43 pasien anak-anak dan balita, 115 pasien dewasa, serta 66 pasien lansia,” terangnya.

Dokter Nico menambahkan, selain memberikan pelayanan kesehatan buat warga, relawan medis RS UMM juga melakukan tindakan amputatum digiti (pemotongan jari) terhadap pasien bernama Zahar (23), yang diketahui tertimpa bangunan saat terjadi gempa. Akibatnya, Zahar mengalami nekrosis(kematian organ).

“Tindakan amputasi jari tangan Zahar dilakukan di Puskesmas Pembantu (Pustu). Sebelumnya, kita berkordinasi dengan pihak Pustu untuk tindakan dan untuk perawatan post-tindakan. Tindakan inu juga telah di-acc korlap medis lapangan Mayor dr Ali Thomas Sp Rad yang diteruskan ke Letkol Laut drg Ketut Sp OT,” tegasnya. Setelahnya, tim medis RS UMM lebih banyak memberikan pelayanan dan penyuluhan kesehatan buat warga di Sulteng.

Di sisi lain, empat relawan medis asal Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Ahmad Dahlan Kediri langsung bergerak mendirikan Pos Pelayanan (Posyan) Kesehatan sehari setelah tiba di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Posyan Kesahatan itu didirikan oleh dr Satria Candra, Didik Bahrur Rokhim, Zainul Arifin, dan Johan Iskandar Pradana di halaman Masjid Asy-Syuhada Dusun Satu, Desa Sidera, Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulteng.

Pendirian Posyan Kesehatan oleh relawan kesehatan Muhammadiyah Jatim gelombang dua itu dilakukan dengan bergotong-royong bersama warga desa. Zainul Arifin mengata-kan, untuk tugas hari pertama kami fokus membangun tenda untuk Posyan Kesehatan dengan bergotong-royong bersama warga. Kami kemudian melakukan pengobatan dan memberik-an penyuluhan kesehatan di desa tersebut. “Pada hari pertama kami mampu melayani 15 pasien dengan rincian dua balita, tiga anak-anak, tiga dewasa, dan tujuh lansia,” terangnya.

Selepas mendirikan posyan, tiga relawan medis RS-MAD Kediri terus memberikan pelayanan dan penyuluhan ke-sehatan buat warga desa Sidera, baik melakukan layanan kesehatan di posyan maupun berkeliling ke rumah-rumah warga.

Sungguh perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa dari para relawan ini. Apresiasi setinggi-tingginya patut kita layangkan buat mereka. Pasalnya, tidak banyak orang seperti mereka, rela berkorban demi membantu sesama yang sedang ditimpa musibah bencana alam. Para relawan itu sejatinya adalah “Pahlawan” bagi sesamanya. Walau sebutan itu enggan mereka sandang, namun itulah setitik penghargaan dari kita yang bersimpati pada pengorbanan tulus mereka. (AH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *