Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Hajriyanto Yasin Thohari, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Penamaan Muhammadiyah sebagai ormas atau yayasan, menurut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hajriyanto Yasin Thohari, hanya untuk kepentingan formalitas kelembagaan. “Basisnya Muhammadiyah itu ya gerakan, karena warga Muhammadiyah habitatnya bergerak untuk kemajuan,” kata Hajriyanto di hadapan peserta Konsolidasi Organisasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), beberapa waktu lalu.

Sejak awal berdirinya, lanjut Hajriyanto, terlebih dalam beberapa dasawarsa masa-masa formasinya, Muhammadiyah lebih menampilkan sebagai gerakan amal (a philanthropical movement), bahkan gerakan amal par excellence.

“Kyai Haji Ahmad Dahlan, sang pendiri, dan murid-muridnya adalah pribadi-pribadi yang tidak begitu tertarik dengan polemik-polemik keagamaan atau teologis, melainkan berkecenderungan sangat kuat pada kerja-kerja kemanusiaan, kedermawanan kepada sesama, sangat cinta sesama, dan gandrung pada pekerjaan-pekerjaan amal atau filantropis. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang pemurah, dermawan dan suka menolong pada sesama. Agama itu lebih mementingkan amal dari pada spekulasi-spekulasi teologis,” tutur Wakil Ketua Majelis Permuswaratan Rakyat Republik Indoneisa (MPR RI) 2009-2014ini.

Belakangan, Hajriyanto menilai seiring dengan perubahan lingkungan strategis dalam berbagai bidang kehidupan, apa yang disebut Amal Muhammadiyah (AM) berkembang menjadi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Semua kegiatan atau bentuk AUM apapun, apalagi yang mengandung unsur profit yang menjadi kecenderungan baru dalam perkembangan Muhammadiyah dalam beberapa dasawarsa terakhir, pada sejatinya merupakan perluasan atau tambahan dan improvisasi yang datang belakangan.

“Itu semua tidaklah otentik Muhammadiyah. Dus, tidak original. Jika pendirian sekolah-sekolah unggulan dan rumah-rumah sakit favorit saja tidak otentik Muhammadiyah, apatah lagi kegiatan politik untuk kekuasaan! Pasalnya, pada sejatinya Muhammadiyah yang otentik adalah gerakan etik dan filantropik. Bukan gerakan AUM yang disengaja untuk memperoleh sisa hasil usaha (SHU),” serunya.

Tentu, Hajriyanto menegaskan, dengan mengatakan tidak otentik bukan berarti itu semua dilarang atau tidak diperbolehkan. Boleh saja Muhammadiyah terjun dalam bentuk pengembangan AUM, atau sekalian saja bisnis sekalipun, yang dimaksud untuk mengejar profit mengingat perkembangan dan dinamika kehidupan yang nyatanya telah berkembang sedemikian rupa sehingga perjuangan mewujudkan visi dan misi Muhammadiyah memerlukan sumber daya ekonomi yang kuat dan besar.

Hajriyanto berpesan, semangat kerelawanan, cinta kasih dan kedermawanan kepada sesama adalah jati diri gerakan Muhammadiyah yang paling otentik dan orisinal. “Semangat dan atau karakter ini mungkin sangat tidak cocok untuk dibawa ke medan politik Indonesia yang semakin pragmatis, oligarkis, dan plutokratis seperti sekarang ini. Terbukti Muhammadiyah dan orang Muhammadiyah yang cenderung puritanistik itu seringkali kedodoran dan madek mangu dalam lapangan yang kasar ini.

Dan dengan roh volunterisme (kerelawanan) dan filantropisme (kedermawanan) ini pula Muhammadiyah juga akan kesulitan untuk terjun dalam bisnis yang semakin cenderung kapitalistik ini. Maka jauh lebih mulia bagi Muhammadiyah untuk tetap tabah, kukuh dan setia dengan kerja-kerja kemanusiaan yang ikhlas yang mungkin sunyi sepi ini, kerja-kerja yang jauh dari kekayaan dan ketenaran pencitraan dunia glamour yang sarat dengan tepuk tangan kekaguman yang hingar bingar itu,” tukasnya.

Lazismu, MPS & MDMC adalah Reinkarnasi PKO

Muhammadiyah sebagai organisasi gerakan Islam mempunyai tekanan pada kegiatan amal usaha untuk kesejahteraan umat, meskipun gerakan pemikiran juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Sifat gerakan itu ada dalam kegiatan amal usaha. Lazismu yang berkembang di Muhammadiyah adalah reinkarnasi dari Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO).

Muhamamdiyah itu diilhami oleh Teologi Al Ma’un yang sangat filantropis. Teologi itu harus terus digelorakan dalam tubuh Muhammadiyah. La-zismu adalah hilir dan hulu gerakan filantropi yang otentik dari Muhammadiyah. Hajriyanto kembali menekankan bahwa program filantropi gaya Mu-hammadiyah itu bisa dicapai kalau semua unsur di Muhammadiyah berkhidmat pada teologi Al Ma’un.

“Zakat, sedekah dan wakaf menjadi motor sekaligus tulang punggung Muhammadiyah sebagai gerakan filantropis dengan mendirikan sekolah, panti asuhan yatim, dan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Tentu saja, gerakan itu juga banyak tantangannya. Tantangan saat ini bolehkah Muhammadiyah mengembangkan profit center ? Boleh saja Muhammadiyah mengembangkan AUM atau sekalian bisnis usaha sekalipun. Mengingat perkembangan dan dinamika kehidupan yang nyatanya telah berkembang sedemikian rupa sehingga perjuangan mewujudkan visi dan misi Muhammadiyah memerlukan sumber daya ekonomi yang kuat dan besar”, tegas pria mantan Ketua DPP Partai Golkar yang lahir di Karanganyar tersebut.

Penulis dan politikus itu mengingatkan bahwa tantangan ke depan yang kompleks menuntut kerja keras. Dibutuhkan kerja kerelawanan dan kemanusiaan. Tidak hanya dengan nilai-nilai keimanan dan keikhlasan semata, melainkan juga dengan keahlian dan ketrampilan teknis di lapangan yang berstandar modern dan profesional.

Oleh karena itu menurut Hajriyanto Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah), MPS (Majelis Pelayanan Sosial) dan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center / Lembaga Penanggulangan Bencana) harus didirikan dan dikembangkan di setiap Wilayah, Daerah dan Cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Ketiga majelis atau lembaga itu (Lazismu, MPS & MDMC) adalah Trisulanya Muhammadiyah di Abad kedua atau reinkarnasi PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem). Trisula baru ini sangat otentik, asli dan khas Muhammadiyah sebagai gerakan al-Ma’uun yang bervisi kemanusiaan dengan misi kerelawanan dan kedermawanan.

Dengan berkembangnya Trisula Muhamma-diyah di abad kedua itu, maka roh gerakan Muham-madiyah yang otentik akan menjadi kekuatan utama da’wah yang berkemajuan sebagai pengejawantahan Islam rahma-tin lil ‘alamin. Semoga Muhammadi-yah semakin berjaya menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam guna terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, dengan mengusung misi Da’wah Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar di Indonesia. (UMM/can/han/nrd /malangmu.or.id).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *