Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Harta; Fitnah atau Anugerah?

Di zaman ini, harta telah menjadi symbol keberhasilan hidup seseorang. Bahkan ia menjadi sebuah tolok ukur keberhasilan seseorang. Seseorang dianggap sukses bila hartanya banyak. Sebaliknya seseorang dianggap tidak berhasil bila ia kekurangan harta. Tak heran, bila keadaan ini memicu manusia berlomba-lomba siang dan malam untuk meraih harta sebanyak-banyaknya. Sampai-sampai ia lupa bila hidupnya di dunia hanya sementara.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia keciantaan pada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan sisi Allahlah tempat kembali yang baik. (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 14)

Harta adalah salah satu perhiasaan dunia yang dicintai manusia. Dengan harta itulah sesungguhnya manusia diuji oleh Allah. Dengan harta tersebut, manusia bisa menjadi mulia seumpama Sulaiman a.s, atau sebaliknya binasa laksana Qarun laknatullah ‘alaih.

Tiap umat mempunyai fitnah sendiri-sendiri, dan fitnah umatku adalah harta. (Riwayat Tirmidzi)
Ayat dan hadis di atas sesungguhnya menjelaskan perkara yang sangat besar. Bahwa fitnah utama manusia di zaman ini adalah karena harta. Oleh karena itu mulia atau hinanya seseorang sangat ditentukan oleh sikap dan perbuatannya terhadap harta.

Nah, agar manusia tidak terjebak dalam kehinaan yang terdalam, maka diperlukan manajemen pengelolaan rezeki/harta. Sebuah tata kelola yang tak semau gue, tapi berdasarkan kehendak yang Mahakuasa. Kenapa begitu? Karena harta ibarat api. Ia bias menjadi sangat berguna, tapi sebaliknya bias juga membuat kita binasa. Harta juga seumpama pisau. Ia bias membantu kita memotong buah dan sayuran. Tapi ia bida juga digunakan untuk membinasakan diri sendiri ataupun orang lain. Untuk itulah pergunakan harta sesuai dengan yang dikehendaki oleh Sang Maha Pemilik harta.

Rumus Matematika Sedekah

Mungkin masih banyak di antara kita yang beranggapan bahwa sedekah akan mengurangi harta. Padahal bisa dipastikan, bahwa anggapan seperti itu salah! Sedekah tidak akan mengurangi harta. Justru sebaliknya, sedekah akan melipatgandakan rezeki sebanyak sepuluh kali lipat.

Janganlah selalu menghitung balasan sedekah dengan hitungan matematika manusia. Tidak akan ketemu hasilnya. Matematika menyebutkan bahwa 10 – 1 = 9. Matematika sedekah memiliki perhitungan sendiri. Matematika sedekah menyatakan bahwa 10 – 1 = 709. Karena, 1 bagian yang kita keluarkan sebagai sedekah akan dibalas tujuh ratus kebaikan, sehingga 9 (harta sisa sedekah) ditambah 700 (harta balasan sedekah) sama dengan 709.

Jika kita sedekahkan 3 dari 10 yang kita miliki, maka 3 itu akan menarik 2100, sehingga menjadi 2107 (10 – 3 = 2107). Jika kita sedekahkan 5, maka akan menarik 3500, sehingga total menjadi 3505 (10 – 5 = 3505). Demikian seterusnya. Setiap 1 bagian yang kita keluarkan akan menarik 700 kebaikan. Dengan demikian, jika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 10, maka akan menarik 7000. Inilah matematika sedekah.

Dasar perhitungan di atas adalah firman Allah surat al-Baqarah ayat 261. “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah adalah seumpama sebuah biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai itu berisi seratus biji. Dan Allah melipat gandakan bagi siapa yang dikehendaki-Nya dab Allah melipatgandakan bagi siapa yang dikehendakinya dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”

Ayat di atas tegas menyatakan bahwa setiap kebaikan akan mendapat balasan 700 kali kebaikan. Jadi, jika kita sedekah 1 juta rupiah dari total 10 juta rupiah yang kita miliki, maka 1 juta yang kita sedekahkan itu akan mendatangkan 700 juta berikutnya, sehingga hasilnya adalah 709 juta rupiah.

Sedekah yang ikhlas dibalas tunai oleh Allah tujuh ratus kalikebaikan. Allah memiliki cara sendiri untuk membalas amal kebaikan (baca: sedekah) yang dilakukan hamba-Nya. Dahsyat!

Zakat Itu Apa Sih ?

Menurut Bahasa. Menurut lisan al-Arab, zakat (al-zakat) ditinjau dari sudut bahasa adalah suci, tumbuh, berkah, dan terpuji.

Menurut istilah. Zakat adalah ibadah wajib yang dilaksanakan dengan memberikan sejumlah kadar tertentu dari harta milik sendiri kepada orang yang berhak menerimanya sesuai dengan ketentuan syariat.

Di antara amal saleh yang agung adalah zakat, maka siapa yang menunaikannya akan membuat imannya bertambah dan siapa yang meninggalkannya berarti ia bermaksiat kepada Allah dan menzalimi saudara-saudaranya yang lemah, dan berarti akan berkurang kadar keimanannya.

Selain menumbuhkan keimanan, zakat juga akan menumbuhkan rasa saling mencintai sesama muslim karena adanya interaksi kebaikan, yakni antara orang-orang kaya dengan orang-orang yang miskin sehingga padamlah api kecemburuan sosial di antara mereka.

Orang yang tidak menunaikan zakat sama dengan memakan harta yang bathil, haram atau sama saja dengan korupsi, karena harta zakat adalah hak orang lain dan bukan lagi menjadi haknya walaupun harta itu memang ada di tangannya dan memang hasil dari usahanya sendiri. Ini penting untuk digaris bawahi, karena perbuatan ini tentu saja akan mengotori jiwa kita dan membuat doa tidak akan dikabulkan Allah karena ia telah memakai atau mengonsumsi harta yang haram. Itulah sebabnya, zakat sangat penting bagi penyucian jiwa.

Keutamaan Mengeluarkan Zakat

Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang terkait dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun hubungan sosial kemasyarakatan diantara manusia, antara lain:

  1. Mansucikan diri dari ktoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlak mulia menjadi murah hati, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi) dan mengikis sifat bakhil (kikir) dan serakah, sehingga dapat merasakan ketenangan batin karena terbebas dari tuntutan Allah dan tuntutan kewajiban kemasyarakatan.
  2. Menolong, membina dan membangun kaum yang lemah dan papa dengan materi, untuk memenuhi kebutuhan pokokhidupnya. Sehingga mereka dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah Swt.
  3. Memberantas penyakit iri hati dan dengki yang biasanya muncul ketika melihat orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak punya apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
  4. Terwujudnya system masyarakat Islam yang berdiri di atas prinsip Ummatan Wahidatan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat, hak, dan kewajiban), Ukhuwah Islamiah (persaudaraan Islam), dan Takaful Ijtimai (tanggungjawab bersama).
  5. Mewujudkan keseimbangan dalam distribusi dan kepemilikan harta, serta keseimbangan tanggungjawab individu dalam masyarakat.
  6. Mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan adanya hubungan seseorang dengan yang lainnya rukun, damai, dan harmonis sehingga tercipta ketenteraman dan kedamaian lahir dan batin.

ZAKAT ITU MUDAH DAN RINGAN, BUKTINYA..

Prosentase harta yang dikeluarkan untuk zakat kecil. Lihatlah berapa persen harta zakat itu? 2,5% untuk emas dan perak. Besarkah jumlah yang demikian? Paling besar 20% itu pun karena harta tersebut adalah harta temuan. Sedangkan untuk hasil pertanian (makanan pokok) yang diairi hujan besarnya adalah 10%. Adapun bila dengan fasilitas pengairan hanya 5%. Sangat ringan, bukan?

Tidak semua harta benda dan hasil pertanian terkena zakat. Tidak semua biji-bijian/buah terkena zakat. Sayuran pun tidak kena zakat.

Harta dan hasil pertanian itu terkena kewajiban zakat bila jumlahnya mencapai batas tertentu. Bila kurang dari batas tersebut (nishab) maka tidak ada kewajiban membayar zakat.

Harta benda seperti emas, perak, dan harta temuan barulah terkena kewajiban zakat setelah banyaknya yang mencapai batas nishab itu berusia satu tahun. Apabila sebelum satu tahun ia telah nafkahkan sehingga jumlahnya di bawah batas maka gugurlah kewajiban.

[divider]