Kilas Balik Perjalanan Klinik Apung Said Tuhuleley di Bumi Maluku

Media sosial

Perjalanan Klinik Apung Said Tuhuleley, kapal boat kesehatan, di bumi Maluku, tulisan Dr Mahli Zainudin Tago, Sekretaris Lazismu Pusat.

P u l a n g    K a m p u n g

Lepas pantai Saparua Maluku, 25 Pebruari 2017. Matahari hampir mencapai titik tertingginya. Satu jam sudah kami berlayar dari Pelabuhan Tulehu. Di belakang kami Pulau Ambon terlihat nun jauh, di sebelah kiri jauh pantai dan Pulau Seram terhampar memanjang seperti tiada ujung dari timur ke barat, dan di sebelah kanan kami nampak pantai Pulau Haruku tersaji indah berselang seling antara karang dan pasir putih.

Di depan kami terlihat laut dalam berwarna biru, lalu laut dangkal berwarna hijau, dan diakhiri garis pantai pulau Saparua. Ketika dermaga Desa Kulur sudah nampak di depan mata tiba-tiba awan hitam datang menggumpal. Dalam waktu tidak lama hujan sangat deras dan ombak seakan menyambut kedatangan kami. Maka kapal kecil kami tidak bisa langsung merapat. Bahkan mesin kapal harus dimatikan. Ada banyak karang di dasar laut yang siap menerjang.

Segera dua kru kapal terjun ke laut, berenang menuju dermaga. Mereka membawa tali kecil yang menyeret tali lebih besar. Selanjutnya perlahan tapi pasti dua anak muda Kulur yang tangguh dan terampil ini menarik kapal kami melewati sela-sela batu karang yang formasinya sudah sangat mereka hapal menuju dermaga. Lalu di tengah guyuran hujan yang begitu deras siang itu, satu persatu penumpang turun dari kapal dan berjalan di atas jembatan dermaga menuju Desa Kulur. Aku masih duduk terdiam di bangku kemudi kapal sambil memandang masjid dan rumah-rumah beratap seng di sekitarnya.

Ketika akhirnya turun ke dermaga dan berjalan pelan aku tidak lagi menghiraukan hujan deras siang itu. Perasaanku campur aduk. Air mata bercampur air hujan rasanya sudah membasahi pipiku. Gembira karena akhirnya bisa menginjakkan kaki di desa yang sudah lama aku dengar nama dan lihat gambarnya. Sedih karena tidak bisa kesini bersama beliau. Beliau yang lahir di desa pantai ini. Beliau yang lama menjadi seniorku di UMY maupun di Persyarikatan Muhammadiyah. Said Tuhuleley.

Aku mengenal Pak Said, nama panggilan yang biasa aku gunakan untuk Said Tuhuleley, sejak 1992. Saat itu aku baru menjadi dosen muda dan beliau adalah dosen senior di fakultas kami, FAI-UMY. Tentu ada segan untuk mendekati beliau saat itu. Apalagi beliau lebih banyak berkntor di LP3M UMY, sebuah lembaga yang menerbitkan majalah kampus bergengsi Media Inovasi.

Mula buka kedekatanku dengan beliau ketika aku menyampaikan salam dari Pak MT Arifin dan Pak Ali Imron Aem dosen sekaligus seniorku saat aktif di majalah mahasiswa PABELAN UMS Solo. Mereka adalah teman Pak Said sesama aktivis mahasiswa di IKIP Jogja era 1970-an. Aku kemudian diajak Pak Said bergabung di majalah Media Inovasi dan belakangan Majalah Pendidikan Gerbang. Aku makin dekat dengan Pak Said ketika beliau menjadi wakil rektor bidang kemahasiswaa UMY dan aku menjadi pembantu dekan bidang kemahasiswaan pada FAI UMY pada masa seputar Reformasi. Belakangan aku bahkan sempat mambawa Pak Said berkeliling Kerinci. Kami menikmati keindahan Danau Kerinci yang mirip sekali dengan keindahan Laut Haruku. Pak Said juga menginap di rumah keluarga di kampung halamanku. Saat itu kami berada dalam satu tim penelitian.

Pak Said adalah aktivis sejati. Sebagai ketua HMI Cabang Jogja beliau dikenal menjadi salah satu tokoh penting pergerakan mahasiswa Indonesia era 1970-an. Aktivitas ini menghantarkannya mendekam di penjara pada era Orde baru. Setelah menjadi dosen beliau memilih Muhammadiyah sebagai arena berkiprah. Pengabdiannya yang tidak mengenal lelah membawa beliau mendapatkan amanah untuk memegang jabatan-jabatan strategis di Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Pak Said menjadi sekretaris Majelis Dikti, pengurus Majelis Tabligh, dan selama dua periode terakhir memimpin dan membesarkan majelis yang baru dibentuk yaitu Majelis Pemberdayaan Masyarakat. Sehingga beliau sangat disegani di dalam maupun di luar Muhamadiyah. Kata-kata beliau yang sampai sekarang masih kami kenang adalah ”tidak ada kata istirahat selama rakayat masih menderita.”

Tetapi Allah lebih sayang beliau. Pada 9 Juni 2015 Pak Said meninggal dunia pada usia 62 tahun. Ketika itu terjadi aku hanya bisa berdoa dari Masjidil Haram karena dalam perjalanan umrah. Ketika kembali ke kampus aku merasa kehilangan sosok Said Tuhuleley sebagai senior yang identik dengan semangat kerja keras dan keberpihakan pada masyarakat lemah. Sebagai penghormatan atas dedikasinya yang luar biasa Muhammadiyah melalui Lazismu membuat sebuah program layanan sosial Kesehatan yang diberi nama Klinik Apung Said Tuhuleley (KAST).

Gagasan pengadaan KAST ini berawal dari keinginan Muhammadiyah melayani warga di daerah terpencil yang belum menikmati pelayanan kesehatan dari negara secara maksimal. Hilman Latief, ketua Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah, menjelaskan bahwa untuk daerah seperti Maluku konsep klinik apung ini sangat cocok. Maluku yang dijuluki “Negeri Seribu Pulau” memiliki 1.340 pulau yang tersebar di 11 kabupaten/kota. Ketersediaan dokter di Maluku pada 2017 baru 6:10.000 orang dari idealnya 11:10.000. Sehingga banyak warga sakit tidak bisa tertolong karena jauh dari akses layanan kesehatan. Bahkan, di Kabupaten Maluku Barat Daya, seperti Pulau Liran, Wetar, dan Kisar, banyak warga memilih berobat ke negara tetangga, Timor-Leste yang lebih dekat dibanding Ambon. Maka “Klinik apung menjawab kebutuhan masyarakat di daerah kepulauan ini,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat mendampingi Presiden Joko Widodo meresmikan klinik apung di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, Jumat 24 Pebruari 2017.

Klinik Apung Said Tuhuleley menggunakan kapal berbasis yacht. Kapal ini dibangun di galangan Yang Ming Marine, Jakarta, selama empat bulan dengan biaya Rp 2 miliar. Dengan daya 750 PK meski seberat 8 ton kapal ini memiliki kecepatan tempuh 30 knot per jam. Dalam operasionalnya kapal ini dinakhodai oleh seorang kapten dan beberapa ABK (anak buah kapal) serta seorang teknisi mesin.

Kapal kilinik ini didatangkan dari Jakarta ke Ambon sebagai bagian dari pelaksanaan Tanwir Muhammadiyah di kota itu, 24–26 Februari 2017. Setelah menempuh perjalanan lima hari dari ibu kota, kapal tersebut berlabuh di samping kawasan Islamic Center Ambon pada 22 Februari malam. ’’Perjalanan kami ternyata lebih cepat sehari dari jadwal. Semua berjalan lancar, tidak ada hambatan yang berarti. Gelombang laut seolah memberi jalan bagi lancarnya perjalanan kami,’’ ungkap Syafii Latuconsina sahabat Pak Said yang memimpin perjalanan klinik apung dari Jakarta menuju Ambon.

Klinik Apung Said Tuhuleley bekerja melayani pasien secara mobile di pulau-pulau kecil Maluku. Tim medisnya mendatangi kampung-kampung di pulau itu menjemput bola. Pasien yang perlu penanganan khusus akan dirujuk ke Kota Ambon.

’’Ini langkah ikhtiar kami agar klinik ini bisa berfungsi maksimal dalam melayani kesehatan masyarakat di Maluku,’’ ujar Haji Latua, ketua PWM Maluku. Tenaga medisnya terdiri dari dokter dan tenaga perawat yang berasal dari Muhammadiyah yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Pemprov Maluku.” Lanjut Latua.

”kalau tenaga perawat dan dokter dari Muhammadiyah di Maluku kurang, kami akan minta tenaga dokter dari PP Muhammadiyah untuk dikirim ke Maluku secara berkala.” ungkapnya.

Untuk biaya operasional dan penyediaan obat-obatan pada tahap awal akan masih mengandalkan anggaran dari Muhammadiyah. Ke depan disinergikan dengan pemerintah setempat. Selain itu, direncanakan pembiayaan subsidi silang. Caranya, saat sedang tidak beroperasi sebagai klinik , kapal akan disewakan sebagai kapal pesiar. Pendapatan dari penyewaan kapal itu bisa digunakan untuk biaya operasional klinik.

Pelayanan KAST adalah untuk semua orang, bukan hanya buat umat Islam saja apalagi hanya untuk warga Muhammadiyah. Menurut Koordinator Klinik Apung Said Tuhuleley Muhammad Rivai Tuhuleley yang juga adalah keponakan almarhum Said Tuhuleley klinik tersebut diperuntukkan bagi semua komunitas di Maluku. Kapal itu berfungsi sebagai klinik apung yang melayani secara cuma-cuma seluruh rakyat Maluku hingga ke pulau terpencil tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antar-golongan. Maka bak kata pepatah “sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui.

”Muhammadiyah tidak hanya merawat kesehatan rakyat Maluku tetapi juga merawat kebinekaan Indonesia. KAST memang juga membawa misi penting yakni merawat kebinekaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lebih lanjut Rivai berharap klinik apung ini bisa menjadi pelopor pemberdayaan kesehatan di daerah-daerah terpencil, terluar, dan terdepan sebagaimana yang digaungkan presiden saat peresmiannya.

Untuk maksud tersebut, pihak KAST telah berkoordinasi dengan Pemda Maluku. Gubernur Maluku saat itu Said Assagaff menekankan agar dapat dioptimalkan kerja sama penanganan kesehatan masyarakat dan tidak tumpang tindih. Kepala Dinas Kesehatan Maluku Meikyal Pontoh merasa sangat diuntungkan dengan hadirnya KAST ini. Mereka tidak perlu menyewa kapal lagi.” Tegasnya, “selama ini kami sewa kapal yang sangat mahal.”

Pada 24-26 Februari 2017 Muhammadiyah menyelenggarakan Sidang Tanwir di kota Ambon. Bagian dari seremoni dalam Tanwir ini adalah peluncuran KAST. SEHARI setelah diresmikan Presiden Jokowi, KAST langsung melakukan misi kemanusiaan ke Desa Kulur Pulau Saparua dan Desa Ori di Pulau Haruku. Dua pulau di tengah laut itu memang jauh dari Ambon, ibu kota Maluku. Dengan demikian, bisa dimaklumi bila kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di dua pulau tersebut selama ini kurang memadai. Menurut Latua, Desa Kulur dipilih semata-mata untuk mengenang dan menghormati nama kampung halaman Said Tuhuleley. Sejak hari pertama beroperasi pada 25 Februari 2017, Klinik Apung Said Tuhuleley sudah melayani ratusan pasien dengan berbagai keluhan penyakit.

Klinik itu beroperasi hampir seharian penuh, dari 07.00 hingga 22.00. Pada hari pertama, pasien ditangani para dokter dan perawat yang saat itu mengikuti Sidang Tanwir Muhammadiyah di Ambon. Pengelola juga mendatangkan dokter dari Rumah Sakit Pondok Cempaka Putih Jakarta dan RSU Muhammadiyah Jakarta. ’’Begitu besarnya animo masyarakat yang ingin mendapatkan perawatan medis di klinik apung ini menunjukkan bahwa persoalan pelayanan kesehatan di Maluku perlu perhatian serius dari semua pihak. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,’’ tutur Latua.

Pantai pulau Haruku Maluku, 25 Pebruari 2017. Suara azan terdengar merdu dari Dermaga Desa Ori. Keindahan Selat Haruku mengingatkan aku akan keindahan Danau Kerinci di kampung halamanku nun jauh disana. Keduanya sama-sama dikelilingi bukit-bukit dan gunung yang menghijau. Misi kemanusiaan perdana KAST di Desa Kulur Pulau Saparua dan di desa Ori Pulau Haruku berjalan sukses. Program berlangsung sangat antusias dan masyarakat menunggu kehadiran lanjut KAST di negeri mereka. Dalam pangkuan temaram cahaya senja kami menunaikan shalat magrib berjamaah di atas lantai kayu dermaga. Suara lembut ombak yang menerpa kapal Klinik Apung Said Tuhuleley sungguh membuat aku merasakan suasana yang syahdu.

Walaupun hanya sebagai penggembira dalam perjalanan ini aku sungguh terkesan. Ini adalah pengalaman pertamaku ke desa Kulur sekaligus perjalanan pertamaku ke Maluku. Beberapa bulan kemudian situasinya menjadi makin menarik. Lazismu mendapat amanat dari Badan Amil Zakat nasional (BAZNAS) untuk menjalankan program KAST dengan tema Ekpedisi Zakat di Maluku 2018. Tanpa bisa menolak aku ditetapkan teman-teman pengurus Lazismu Pusat untuk memimpin ekspedisi ini. Semoga aku bisa menuliskan kembali cerita perjalanan selanjutnya bersama KAST di negeri kepulauan para raja ini. Insya Allah. (Dr Mahli Zainudin Tago, Sekretaris Lazismu Pusat.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
ada pertanyaan?
Lazismu Jatim
Assalamualikum, adakah yang bisa saya bantu?