Search
Close this search box.
Whatsapp Chat
Konsultasikan Zakat Anda kepada Kami

Prof Hilman Latief PhD : “Arsitektur dan Ekosistem Filantropi Muhammadiyah”

 

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LAZISMU 2024 yang dilaksanakan di Palembang 24-26 November 2023 mengetengahkan tema “Penguatan Inovasi Sosial untuk Pencapaian SDG’s”. Sejalan dengan itu penting kiranya  dipersiapkan oleh segenap LAZISMU tentang tata kelola dan rancang bangun yang kokoh guna membangun sebuah ekosistem yang kuat, mampu menopang inovasi sosial guna pencapaian pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG’s).

Salah satu materi yang disampaikan dalam Rakernas LAZISMU 2024 di Palembang adalah Arsitektur dan Ekosistem Filantropi Muhammadiyah dengan narasumber Prof Hilman Latief, PhD, Dirjen PHU Kementerian Agama RI dan Ketua LAZISMU Pusat periode 2015-2020.

Menurut Prof Hilman Latief, tradisi memberi, menerima dan memberi manfaat serta saling memenuhi kebutuhan adalah siklus kebajikan (filantropi) yang telah berlangsung lama dalam peradaban manusia. Manusia saling take and give memberi dan menerima dalam kehidupannya sebagai perwujudan makhluk sosial.

Indonesia adalah dikenal sebagai negara yang rakyatnya paling dermawan di dunia. Semangat dan aksi kedermawanan rakyat Indonesia ini merupakan salah satu pilar kuat gerakan filantropi di tanah air.

Senada dengan hal itu Persyarikatan Muhammadiyah, lanjut Hilman, adalah sebuah gerakan Islam berbadan hukum yang lebih dari satu abad menjadi bagian dari ekosistem tradisi filantropi Islam di tanah air, Indonesia. Muhammadiyah adalah bagian dari siklus kebajikan dengan menerima, mengelola, menyalurkan dan meningkatkan manfaat filantropi Islam berupa zakat, infak, shadaqah, wakaf, dan hibah untuk kemasalahatan umat.

Oleh sebab itu penting didesain sebuah Arsitektur Filantropi Muhammadiyah. Hal itu merupakan desain besar, proses dan produk dari perencanaan, perancangan, konstruksi dan struktur gerakan filantropi yang fungsional, estetik (sistemik), dan memiliki ketahanan dalam membangun kemaslahatan umat, jelas Hilman.

Ekosistem filantropi Muhammadiyah adalah suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antar segenap aktor dan unsur filantropi, meliputi sumber dana, pengelola, sistem dan penerima manfaat, yang saling memenuhi dan mempengaruhi sehingga menjadi siklus kebajikan yang berkelanjutan. Hilman menegaskan bahwa Ekosistem dan arsitektur filantropi yang sehat dapat dan harus didisain, diimajinasikan dan diciptakan.

Dalam Pasal 36 Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Muhammadiyah diuraikan tentang sumber dana Persyarikatan. Pada pasal 1 Dana yang diperoleh dari uang pangkal ataupun iuran anggota, pelajar dan mahasiswa di AUM. Pasal 2, dana dari Hak Milik Muhammadiyah, berupa dukungan dan kontribusi biaya yang diberikan oleh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), seperti Perguruan Tinggi (PTM), Rumah Sakit (RSM/A), dan lain-lain.

Kemudian pada pasal 3 Dana ZISWAH dihimpun ZIS dan atau hasil pemanfaatan dana lahan wakaf serta hasil pendayagunaan hibah (masyarakat maupun pemerintah). Pasal 4, dana diperoleh dari usaha-usaha perekonomian berupa dukungan dan kontribusi biaya dari Dividen, SHU dan CSR, BUMM dan hasil investasi Persyarikatan. Pada pasal 5 dana berasal dari sumber-sumber lain berupa bantuan pemerintah, non-pemerintah, luar negeri, Lembaga keuangan mitra, donatur dan sebagainya.

Dari situ tergambar jelas dari mana sumber dana dan keuangan bagi pergerakan Muhammadiyah. Nah, oleh karena itu kebijakan yang diambil oleh Persyarikatan, menurut mantan Ketua LAZISMU Pusat periode 2015 – 2022 ini, adalah sebagai berikut:

  • Majelis Pendagunaan Wakaf (MPW) & LAZISMU Pusat merumuskan kebijakan teknis, grand desain target capaian, reformasi tata kelola dan capaian pendayagunaan,
  • MPW & LAZISMU Pusat & Wilayah merumuskan dan menerapkan Strategi pendayagunaan dalam bentuk pilot project,
  • MPW & LAZISMU Pusat & Wilayah mensosialisasikan dan mendiseminasikan serta mengevaluasi efektifitas dan capaian pendayagunaan.

Menuju ke Arah MDGs

Hilman melanjutkan bahwa pada periode 2022-2027 Persyarikatan mencanangkan Muhammadiyah’s Sustainable Development Goals (MDGs). Yaitu sebuah platfrom dan agenda pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dan mencapai Visi Muhammadiyah 2020-2027.

Sedangkan visi Muhammadiyah 2020-2027 adalah meningkatnya sinergi dengan seluruh komponen umat, bangsa, dan kemitraan internasional agar terciptanya pranata sosial berkemajuan bagi tumbuh dan kembangnya nilai-nilai Islam di Indonesia sebagaimana tujuan Muhammadiyah dengan tetap meningkatkan kualitas Persyarikatan dan amal usaha secara berkesinambungan.

Ada empat tujuan visi Muhammadiyah 2020- 2027 yaitu : (1) Terciptanya transformasi sistem gerakan yang maju, profesional, dan modern serta mengakar kuat basis gerakan di era globalisasi dan revolusi teknologi informasi; (2) Berkembangnya kualitas dan fungsi/peran organisasi, kepemimpinan dan anggota sebagai subjek gerakan di tengah dinamika keumatan, kebangsaan dan kemanusaan; (3) Berkembanganya amal usaha yang unggul, mandiri, dan sinergis serta merata di berbagai penjuru tanah air dan mancanegara melalui layanan publik dan standar yang berkualitas; (4) Meluasnya hubungan dan kerja sama internasional serta berkembangnya internasionalisasi gerakan di tingkat global.

Kemudian, tambah Hilman, Tanfidz  Keputusan Muktamar Muhammadiyah dalam program pengembangan filantropi menitikberatkan pada pelaksanaan Zakat, Infaq, Sedekah (ZIS), Wakaf dan Hibah. Oleh sebab itu pengembangan ZIS, Wakaf dan Hibbah harus dibangun dengan kesadaran, teologis dan etis, serta didukung dengan standarisasi administrasi, budaya organisasi, tata kelola, sistem informasi, inventarisasi, database, advokasi, inovasi dan kemitraan.

Baca Kabar lainnya

Profil

Donasi

Layanan

Daftar