Search
Close this search box.
Whatsapp Chat
Konsultasikan Zakat Anda kepada Kami

Punya Hutang Puasa ? Segera Bayar Fidyah dengan Mudah

Ibadah puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu dari Rukun Islam yang wajib dilaksanakan. Namun ada kalanya tidak semua orang bisa menjalankan kewajiban berpuasa. Dalam Islam ada pengeucalian yang merupakan bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya. Namun halangan berpuasa itu merupakan hutang yang harus ditebus atau diganti di luar bulan Ramadhan. Secara umum terdapat dua cara untuk menebus hutang puasa, yaitu: qadla dan fidyah (QS. Al Baqarah: 184).

Dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 184 Allah berfirman, “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Dan juga firman Allah dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 185, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Qadla adalah mengganti puasa wajib di luar bulan Ramadan, diperuntukkan bagi mereka yang masih berpotensi sehat pada masa yang akan datang, misalnya, orang yang dalam perjalanan, wanita haid, dan lainnya.

Sementara itu fidyah adalah memberi makanan pokok atau uang tunai kepada orang miskin sebanyak puasa yang ditinggalkan, diperuntukkan bagi mereka yang dalam kondisi berhalangan sangat berat (yutiqunahu), misalnya, lanjut usia, wanita hamil atau menyusui, dan lain-lain.

Wujud fidyah yang dapat dikeluarkan dapat berupa ; makanan siap saji, bahan pangan sebesar satu mud atau uang tunai senilai satu kali makan. Dua dari ketiga kriteria ini dipahami dari makna umum (‘am) yaitu kata tha’am (makanan) yang terdapat dalam QS. Al Baqarah: 184. Dalam beberapa hadis, kata tha’am ini memang menunjukkan makna ganda: makanan siap santap dan bahan pangan. Sehingga menunaikan fidyah dapat berupa nasi kotak atau gandum, beras, sembako dan lainnya.

Sementara fidyah dengan uang tunai, terdapat perbedaan di antara para ulama. Lembaga fatwa Arab Saudi tidak memperkenankan fidyah dengan uang tunai, sementara dari lembaga fatwa al-Azhar dan Komisi Fatwa Kuwait membolehkan fidyah uang tunai sebagai pengganti makanan siap santap dan bahan pangan.

Fatwa Tarjih Muhammadiyah dengan memperhatikan dan mempertimbangkan aspek sifat likuid dari uang sendiri yang lebih bisa leluasa dimanfaatkan orang miskin, maka boleh pembayaran fidyah dengan uang.

Mengenai tata cara membayar fidyah, dalam teks al-Quran dan Hadits tidak dijelaskan teknis pembayaran fidyah. Karenanya Fatwa Tarjih Muhammadiyah memutuskan bahwa menunaikan fidyah boleh dilakukan secara sekaligus atau diecer dengan cara membayar setiap kali tidak puasa Ramadhan.

Sementara sasaran pemberian fidyah diarahkan kepada orang-orang miskin, baik secara konsisten diberikan kepada satu orang miskin, atau berbeda-beda sasaran orang yang pada intinya harus diarahkan kepada orang miskin. Terkait dengan waktu pembayaran fidyah,

Fatwa Tarjih Muhammadiyah menegaskan bahwa tidak diperkenankan dilakukan sebelum orang yang berat menjalankan puasa tersebut secara pasti telah meninggalkan puasa. Bila jauh-jauh hari telah menunaikan fidyah, sementara ibadah puasa belum dimulai, maka perbuatan tersebut dianggap tidak sah. Karena itu, waktu pembayaran fidyah dilakukan setelah orang tersebut secara pasti telah meninggalkan puasa.

Adanya pelaksanaan fidyah ini sesuai dengan prinsip agama Islam itu sendiri yang bertujuan untuk memberi rahmat kepada manusia (QS. Al Anbiya: 107), tidak mempersulit orang beriman (QS. Al Hajj: 78), dan teknis pelaksanaannya bersifat memudahkan (QS. Al Baqarah: 185).

Dispensasi dan Mengganti Puasa

Lebih jelasnya, para ulama telah sepakat bahwa hukum nifas dalam hal puasa sama dengan haidl. Dasarnya adalah sebagaimana Hadits Nabi Muhammad saw: Artinya: “Rasulullah saw bersabda: Bukankah wanita itu jika sedang haidl, tidak shalat dan tidak berpuasa? Mereka menjawab: Ya.” [H.R. Al-Bukhari].

Hadits Nabi Muhammad saw: Artinya: “‘Aisyah r.a. berkata: Kami pernah kedatangan hal itu [haid], maka kami diperintahkan mengqadla puasa dan tidak diperintahkan mengqadla shalat” [HR. Muslim].

Orang yang diberi keringanan (dispensasi) untuk tidak berpuasa, dan wajib mengganti (mengqadla) puasanya di luar bulan Ramadhan, yaitu :

  1. Orang yang sakit biasa di bulan Ramadhan.
  2. Orang yang sedang bepergian (musafir).
    Dasarnya adalah: Firman Allah SWT: Artinya: “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain …” [QS. Al-Baqarah (2): 184]. Sabda Nabi Muhammad saw: Artinya: “Bahwa Rasulullah saw bersabda: Sungguh Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia telah membebaskan puasa dan separo shalat bagi orang yang bepergian, dan membebaskan pula dari puasa orang hamil dan orang yang menyusui.” [HR. Al-Khamsah].

Orang yang boleh meninggalkan puasa dan menggantinya dengan fidyah 1 mud (0,5 kg) atau lebih makanan pokok, untuk setiap hari.

  1. Orang yang tidak mampu berpuasa, misalnya karena tua dan sebagainya.
  2. Orang yang sakit menahun.
  3. Perempuan hamil.
  4. Perempuan yang menyusui. Dasarnya adalah sebagaiana firman Allah SWT: Artinya: “Dan wajib bagi orango-rang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” [QS. Al-Baqarah (2): 184]. Hadits Nabi Muhammad saw: Artinya: “Bahwa Rasulullah saw bersabda: Sungguh Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia telah membebaskan puasa dan separo shalat bagi orang yang bepergian, dan membebaskan pula dari puasa orang hamil dan orang yang menyusui.” [HR. Al-Khamsah].

Oleh karena itu puasa Ramadhan tetap dilakukan kecuali bagi orang yang sakit dan yang kondisi kekebalan tubuhnya tidak baik, dan wajib menggantinya sesuai dengan tuntunan syariat.

Membayar Fidyah Melalui LAZISMU

LAZISMU sebagai Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah di bawah Persyarikatan Muhammadiyah memberikan kemudahan dalam menunaikan fidyah bagi orang yang sudah tidak mampu berpuasa dan tidak mampu membayar hutang puasanya.

Besarnya fidyah melalui LAZISMU adalah Rp 45.000,- per jiwa dikalikan jumlah hari puasa yang ditinggalkan. Fidyah akan diwujudkan dalam bentuk paket bahan pangan atau makanan siap santap menyasar warga yang membutuhkan.

Pembayaran Fidyah bisa ditranfer ke rekening LAZISMU di CIMB Niaga Syariah no 861177711900 dan Bank Muamalat no 7710016474. Konfirmasi transfer ke hotline WA 0851-6170-2078.

Dengan membayar fidyah berarti telah berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan fakir miskin yang memerlukan bantuan pangan. Ayo, mari kita sambut bulan suci Ramadhan dengan kebaikan hati dan pengorbanan kita.

Sumber : www.muhammadiyah.or.id dan www.lazismujatim.org

Baca Kabar lainnya

Profil

Donasi

Layanan

Daftar