Rizaludin Kurniawan : “Memupuk Gairah Relawan Kebencanaan di Mutiara Khatulistiwa”

Media sosial

Tidak ada yang dapat menyangkal porak-porandanya wilayah Palu dan sekitarnya setelah gempa dan tsunami melahap keindahan kota “Mutiara Khatulistiwa”. Sebuah julukan yang disematkan untuk kota yang dikenal juga dengan sebutan (nomoni) atau suara yang harmonis.

Di bumi Tadulako (kota baru) itu harmoni keindahan mutiara khatulistiwa mendadak berubah bunyi menjadi nestapa. Semua tertuju ke kota baru itu untuk mengulurkan tangan membantu warga terdampak bencana gempa-tsunami.

Ribuan relawan datang ke sana membangkitkan semangat mereka untuk menatap masa depan yang baru. Relawan tidak hanya melakukan pendampingan psikososial, layanan kesehatan, dan kegiatan tanggap darurat lainnya. Semua berjibaku menolong situasi warga yang dilanda kesulitan. Beberapa dari mereka bahkan masih berada di sana untuk proses pemulihan dalam jangka waktu yang ditentukan.

Pemerintah dan semua elemen masyarakat terjun ke semua lokasi yang terdampak. Namun ada cerita yang singgah betapa kuatnya dorongan untuk berbagi yang keluar dari tangan dan pikiran setiap orang yang menolong mereka. Bayangkan apa yang terjadi jika pascagempa tidak ada relawan dan lembaga zakat serta kemanusiaan.

Sampai masa tanggap darurat di perpanjang oleh pemerintah, Lazismu dan MDMC masih meyalurkan bantuan. Berpusat di Pos Koordinasi utama yang berlokasi di Universitas Muhammadiyah Palu (Unismu), cerita dan kesaksian merayap masuk dari bilik-bilik suara yang luput dari hiruk-pikuk media pemberitaan.

Adalah Rajindra, jika boleh dikatakan termasuk dari sekian orang yang mengalami kebingungan, apa yang harus ia lakukan bersama orang-orang yang selamat dari terjangan gempa-tsunami beberapa waktu lalu itu.

Tak terbayang dalam benaknya, saat menangani para korban. Ia sendiri bagian dari korban dahsyatnya kekuatan alam. Ketika dirundung kepanikan, masyarakat datang ke kampus Universitas Muhammadiyah Palu meminta pertolongan.

Dikisahkan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Palu ini, semua orang datang dengan cerita kesedihan. Itu sehari setelah kejadian, Rajindra yang ditemani oleh Ketua Lazismu Sulteng, Burhanudin yang juga selaku Dekan Fakultas Ekonomi mengungsi bersama warga yang lainnya kembali turun setelah situasi dinyatakan aman.

Kami mengungsikan keluarga dengan aman, lantas kami kembali ke kampus. Demikian cerita Rajindra dan Burhanudin. Keadaan gelap gulita, semua lampu padam, alat komunikasi mati, air tidak ada, tapi para pengungsi terus berdatangan ke kampus, dan isu penjarahan di mana-mana.

Dalam situasi tak menentu, pertolongan datang dari rombongan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Indonesia dan Lazismu Sulbar serta Sulsel membawa makanan, bahan bakar serta perlengkapan berisi obat-obatan.

Kedatangannya langsung menginisiasi mendirikan posko untuk koordinasi. Tenda darurat, dapur umum dan menghidupkan genset untuk menarik air sumur, itu yang dilakukan di posko koordinasi tersebut yang kebetulan berada di Universitas Muhammadiyah Palu.

Semua kerja cepat, cekatan. Tidak lama berselang datang rombongan dari Gorontalo, Aceh, Jawa timur, Jawa tengah dan dari provinsi lainnya. Kedatangannya atang atas nama MDMC dan Lazismu. Situasi beralih menjadi tenang, amunisi pertolongan tiba. Di Palu kala itu hanya ada rombongan ini, Kata Pak Rektor menguatkan tali-temali informasi.

Cerita ini adalah sepenggal kisah saat Pak Rektor berbincang-bincang dengan kami rombongan Lazismu Pusat dan Alfamart yang dipimpin  Ivan Hermawan selaku GM Corporate Communication Sumber Alfaria Trijaya Tbk.

Unismu Palu sampai detik ini jadi tempat pengungsian, puluhan tenda berdiri. Kampus ini pun dijadikan tempat pusat koordinasi relawan One Muhammadiyah One Respons (OMOR). Ada dua ratusan relawan yang bekerja siang malam tersebar di sembilan pos layanan di beberapa kecamatan.

Puluhan ton logistik yang memenuhi hampir enam ruang kelas belajar fakultas ekonomi, meluber sampai ke halaman. Beberapa tangka penampung air, dijadikan bak air untuk MCK bersama.

Ratusan ember dan peralatan lainnya menumpuk di selasar kelas. Adapun logistik makanan tersimpan di aula kampus yang berada di ruangan dengan penyejuk udara. Di sela kardus-kardus terlihat ada relawan tertidur pulas nampak kelelahan, Di situ pula saat malam tiba kami menyaksikan dan berbaur di atas selembar karpet.

Begitupun tiga lantai ruangan dekan fakuktas ekonomi, para wakil dekan dan tata usaha penuh jadi tempat menginap para relawan, tim medis, tim psikososial dan ruangan pusat komando. “Ada juga dokter dari Australia yang menginap dilantai tiga. Rencana kampus akan membuka perkuliahan minggu depan, tapi tidak tahu apa ada mahasiswa dan dosen yang akan datang kampus,” kata Pak Dekan.

Kolaborasi MDMC – Lazismu layak diapresiasi. Keberadannya adalah obat penawar dari kelelahan bekerja selama ini menjadi relwan. Nuansa ini terus dipupuk sebagai cikal pengabdian gerakan filantropi yang mencerahkan.

Ini modal sosial yang tak terhingga. Koordinasi di lapangan tentu merupakan kompas kemanusiaan dalam situasi darurat pascagempa. Tugas kemanusiaan adalah bagaimana meminimalisir risiko yang datang tak terduga di tengah situasi yang belum tahu kepastiannya.

Dalam kunjungan kemarin, amil Lazismu yang terdiri dari Edi Muktiono dan Rizaludin Kurniawan menyempatkan berbincang langsung dengan Mas Fathul Faruk. Ia komandan lapangan di Palu dari MDMC pusat.

Sudah dua bulan dia tidak pulang ke Kudus, sejak gempa lombok dia langsung di tugaskan di Palu. Secangkir kopi panas menemani setiap detik pembicaraan kami. Mas Faruk dengan bangga mengenalkan makna-makna simbol yang menempel di bajunya itu.

“Dilengan kanan ada logo MDMC dan Lazismu. Kedua logo itu senantiasa hadir. Di lengan kiri logo merah putih dan SAR Muhammadiyah. Sementara di dada kanan ini logo ke ahlian pribadi sebagai penyelam bersertifikat dan ahli penyelamatan di ketinggian yang dikeluarkan oleh asosiasi,” pungkasnya.

Logo-logo yang menempel dipakaiannya tentu tak sebanding dengan pengorbanannya meninggalkan keluarganya di Kudus. Kolaborasi yang terbangun selama ini adalah bagaimana memotret manajemen bencana dalam bingkai mitigasi bencana yang menjadi kebutuhan posko terutama komunikasi melalui saluran media.

Tugasnya adalah bagaimana mengelola informasi secara terpusat dan ditunjuk sebagai jubir resmi. Informasi dan akurasi penting dilakukan agar koordinasi berjalan sesuai dengan neraca kemanusiaan. Sebab jika terjadi kekeliruan informasi, komandan utama di lapangan yang akan diminta pertanggung jawabannya, sambung Mas Faruk.

Ada banyak hal yang tak habis diperbincangkan. Tak mudah mengurainya satu-persatu. Yang pasti upaya misi kemanusiaan tidak boleh berhenti dalam satu langkah. Sejurus kemudian, sebelum pamit, ponsel kami bordering. Pertanda pesan daring masuk lewat whatasapp.

Kabar gembira datang dari Manager Marketing Komunikasi Alfamart Mba Debby, Syukur alhamdulillah, kami tidak salah memilih mitra seperti lazismu, amanah dan jaringannya luas..”.

Sebelumnya, sebagai bentuk kepedulian, lembaga amil zakat nasional dalam hal ini Lazismu dan PT Sumber Alfaria Trijaya, Tbk (Alfamart) mewujudkan misi kemanusiaan dengan memberikan bantuan 1000 paket Family Kit kepada warga terdampak bencana di Pos Koordinasi Utama Universitas Muhammadiyah Palu (18/10/2018).

Penyerahan bantuan itu secara simbolis  diserahkan langsung oleh Direktur Fundraising Lazismu Rizaludin Kurniawan dan Corporate Communication GM Alfamart, Ivan Hermawan kepada perwakilan warga yang disaksikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Palu, Dr. H. Rajindra, S.E.,M.M, Regional Corporate Alfamart Arif Nur Sandi, Lazismu Kalteng Burhanuddin, SE, MM, Manager Teritori Lazismu Edi Muktiono dan Faruk mewakili dari MDMC Indonesia.

Palu, Medio 19 Oktober 2018,

Rizaludin Kurniawan, Direktur Fundraising Lazismu Pusat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
ada pertanyaan?
Lazismu Jatim
Assalamualikum, adakah yang bisa saya bantu?