Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Supiyar, Veteran RI

Keriput diwajahnya tampak begitu jelas, bicarapun mulai terbata-bata, dengan kesehatan yang tampak mulai menurun. Namun dengan usia yang sudah mencapai 86 tahun, Supiyar, lelaki veteran perang Republik Indonesia ini tetap tegar dengan tatapan wajahnya masih terlihat begitu bercahaya bersemangat juang yang tinggi.

Ketika ditanya uniform yang dimilikinya saat ini, dengan bangga batik kuning dan topi pet khas Veteran segera digunakannya. Lelaki pejuang itu begitu bangga dengan seragam kebesaran veteran RI.

“Baju ini saat ini yang sangat saya banggakan nak”, kata Supiyar singkat.

Tampak sisa-sisa kegagahannya menjadi seorang prajurit saat muda dulu, begitu Pet kuning emas itu dikenakannya. Begitu tinggi dan mendalam kecintaan Mbah Supiyar, begitu masyarakat kampung Jatilawang biasa menyapanya, kepada Republik Indonesia ini, walaupun saat ini dia tinggal hanya berdua dengan istrinya yang juga sudah menjelang usia satu abad.

Rumah tua sederhana berlantaikan plester itu hasil tabungannya dari pensiunan veteran yang baru didapatkannya sekitar tahun 2014 dari Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Jika dibandingankan dengan perjuangan penuh resiko yang telah diberikan kepada negeri ini, tentu semua itu masih jauh dari layak. Namun mbah Supiyar begitu nrimo (menerima) bahkan merasa sangat bersyukur karena penjajah sudah tidak lagi berada dibumi pertiwi Indonesia.

“Alhamdulillah nak, sekarang enak, benner enak daripada dulu, mbah sekarang bisa makan nasi sepuasnya…. heheheh”, jawabnya sambil terkekeh.

Saat Lazismu bertanya tentang apa yang dilakukannya saat penjajahan dulu, mata tajamnya mulai menerawang, daya ingatnya masih cukup bagus. Di mata yang mulai berkaca-kaca itu menandakan bahwa ada kenangan yang sangat dalam pada masa mudanya, masa dimana ia hidup sebagai pejuang, yang hanya ada dua pilihan, MERDEKA atau MATI.

Veteran yang usianya hampir satu abad, saat ini tinggal berdua saja bersama istrinya di dusun Jatilawang Desa Tegalwangi kec. Umbulsari, sekitar 25 km dari alun-alun pusat kota Jember kearah barat kemudian keselatan.

“Sekarang hidup sudah enak nak, dulu untuk sekedar makan saja susah, kita harus bersembunyi dari KNIL”, katanya.

“Semua gerak gerik pemuda selalu dicurigai, banyak teman-teman muda mbah yang akhirnya ketangkep dan tidak pernah pulang lagi”, katanya menerawang.

“Kemana mbah?”, tanya Lazismu. “Gakk weroh le (tidak tahu nak), bisa jadi dipenjara, dipaksa kerja rodi atau bahkan dibunuh oleh KNIL, tidak ada kabarnya sama sekali”, katanya menjelaskan.

 Daya ingatnya masih jelas, tidak linglung atau pikun, pandangan jarak jauhnya juga masih cukup bagus, badannya tampak tegap dengan suara yang masih sangat lancar, namun hanya jalannya yang sudah mulai tertatih-tatih, memastikan kakinya bisa berjalan dengan benar dan agar tidak tesandung. Secara keseluruhan Mbah Supiyar masih sehat bugar, khas pensiunan tentara yang senantiasa menjaga fisik tubuhnya.

Peperangan yang juga tidak pernah dilupakannya adalah saat dirinya bersama 1 kompi Pasukan Tawang Alun bergerak ke Surabaya, namun selanjutnya diterjunkan ke Peperangan Trikora (Tiga Komando Rakyat) di Papua Barat atau sekarang Irian Jaya. Saat itu pasukan bertempur mengejar Belanda hingga masuk ke hutan belantara Papua, hingga tanpa disadari mereka telah bergerak jauh dari pemukiman penduduk dan akses jalan serta komunikasi.

“Saat itu, harapan pulang kecil le (baca: nak), pasukan juga sudah terpecah menjadi beberapa pleton, dan pleton saya ini berada didala hutan belantara, sedangkan persediaan makanan semakin menipis”, kata Mbah Supiyar.

“Nah, pada saat itulah, pasukan harus makan seadanya, disekitar camp kami yang ada hanya tenikir, dan tomat, atau mirip lah”, katanya sambil terkekeh. “Mirip tomat le, tumbuh liar ditengah hutan, itu yang kami makan hingga tiga minggu lebih”.

“Rasanya bagaimana mbah?”, tanya Team Lazismu. “Yo koyok tomat…. hehehee…. nang wetteng gak karu-karuan, tapi ya bagaimana lagi adanya cuma itu”, jawabnya lagi.

Akhirnya setelah komunikasi berhasil disambung dengan pleton yang lainnya, bantuan datang dan mengevakuasi seluruh pasukan yang ada, selanjutnya dibawa kembali ke Surabaya dan ke masing-masing daerah.

“Sekarang masih ada rekan-rekan sampeyan mbah?”

“Sempat sekitar sepuluh tahunan masih pernah ketemu dengan beberapa diantara mereka, tapi sekarang saya dengar sudah banyak yang meninggal, disekitar sini saja tinggal saya sendiri le,” Mbah Supiyar menjelaskan.

“Kami kan setiap tanggal sebelas setiap bulannya sering diundang di Koramil, ada pembinaan, pengarahan dan sebagainya, itupun baru setelah Mbah ikuti tiga tahunan ini, karena surat dari pa Menteri buat Mbah baru diterima sekitar tiga tahunan ini”. ujarnya

“Sebelumnya tidak dapat santunan dari Pemerintah mbah? kerjanya mbah apa?”, tanya team Lazismu lagi.

“Yo, tani le, yo ternak pisan”, katanya singkat, mbah Supiyar yang memiliki 2 orang putra ini dan sekarang sudah dikaruniai 6 cucu dan 2 cicit. Namun semuanya tidak ada yang tinggal bersama Mbah Supiyar, beliau tetap tinggal berdua bersama istri tercinta, dirumah tua yang enternitnya sudah mulai rapuh.

Hanya satu pesan mbah Supiyar buat generasi muda Indonesia saat ini, “seng sregep sinau, sak iki wes merdeka, kudu pinter kabeh ben gak dijajah maneh (yang rajin belajarnya, sekarang sudah merdeka, harus pintar semua agar tidak dijajah lagi)”, kata Lelaki tua yang sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) atau setingkat Sekolah Dasar (SD) dengan pangkat terakhir sebagai Kopral Satu (KOPTU).

 

Mari kita peduli kepada mereka yang pernah berjuang dengan jiwa dan raga, untuk kemerdekaan negeri tercinta. Jayalah Indonesia Raya.

* Keterangan : KNIL, Koninklijk Nederlands Indische Leger (Tentara Kerajaan Hindia Belanda).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *