Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Para Pahlawan yang berjuang mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 itu ikhlas tanpa pamrih. Salah satunya adalah Bapak Kastomo, atau Pak Tomo, pejuang 1945 dari Menganti Gresik yang berjuang untuk Kemerdekaan Indonesia.

Siang itu (16/8/17) Lazismu Gresik berkunjung ke Perguruan Muhammadiyah Menganti. Kami disambut oleh seorang aktivis Pemuda Muhammadiyah yang bernama Surya Adi. Ialah yang mengantarkan kami ke sebuah rumah di tepi jalan besar, daerah Sidowungu Menganti, Kabupaten Gresik.

Tidak berapa lama kemudian, keluarlah sesosok orang tua yang menyambut kami dengan ramah. Beliau memperkenalkan diri sebagai Bapak Kastomo yang akrab disapa pak Tomo. “Terima kasih sudah mau bersilaturahim kerumah saya. Disini saya tinggal sendiri, ketiga anak saya sudah tidak ikut saya, ini saya dijaga oleh anak saya yang tinggal disamping rumah,” ujarnya.

Ketika disinggung tentang usia, Pak Tomo ini tidak tahu berapa umurnya. Namun jika dilihat dari fisiknya, kemungkinan berumur 90-an tahun, “Jangan tanya masalah umur ya, dulu itu tidak ada akte kelahiran seperti sekarang, saya juga tidak tahu umur saya sekarang berapa, yang saya ingat, saya itu berjuang melawan Belanda dan Jepang, jauh sebelum TNI itu terbentuk, saya berjuang ketika BKR/TKR sebelum menjadi TNI, dan akhirnya saya pensiun tahun 1968,” kata pak Tomo.

Gaya bicara pak Tomo masih lugas dan jelas, meskipun beliau sudah berusia lanjut. Ketika taliasih dan bingkisan dari Lazismu disampaikan, gaya TNI-nya masih terlihat jelas. Beliau bertanya dengan detail, ini dari siapa, untuk siapa dan isinya apa.

Dengan senang hati Falaq selaku tim Lazismu Gresik mengatakan bahwa bingkisan tersebut merupakan paket sembako, sedikit santunan dan baju muslim dari donatur Lazismu sebagai bentuk penghormatan kepada Pejuang Veteran’45 yang gagah berani melawan penjajahan. “Jazakumullah Khairan Katsiro,” ujar beliau kepada Lazismu.

Sedikit bercerita, Pak Tomo ini merupakan pejuang yang tidak suka dengan kekejaman Belanda dan Jepang, “Saya merasakan, dulu sebelum saya masuk menjadi TKR lalu TNI, saya pernah menjadi romusha pengangkut air. Disitu saya merasa sangat dimanfaatkan oleh Jepang. Penderitaan Belanda 350 tahun dan penderitaan Jepang 3,5 tahun bagi saya rasanya sama saja, sumber daya kita dikuras habis,” Geramnya.

“Setelah merdeka, Belanda masuk lagi ke Indonesia dengan berbagai cara, mulai dari merubah warna kulit dengan cat, masuk ke dalam karung menyerupai bahan pokok yang disuplai ke Indonesia. Lalu kami para pejuang sempat memeriksa karung-karung beras tersebut, kami tusuk dengan bambu runcing, dan keluarlah darah. Disitu kami merasa marah. Kami dibohongi lagi oleh Belanda.

Puncaknya, ketika pengibaran bendera merah putih biru (bendera Belanda-Red) di hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit-Red) tahun 1945 oleh Belanda tanpa ijin pemerintah kotapraja Surabaya. Kami marah besar, dengan arahan dari Bung Tomo kami bergerak menyerang Belanda, dengan bantuan para santri, salah satunya dari Pondok Pesantren Gontor. Banyak yang tewas akibat kejadian tersebut,” ceritanya. Peperangan pun meluas hingga meletuslah peristiwa perang 10 November 1945.

Di akhir cerita, beliau berpesan kepada kita kaum muda, “Jepang itu menghabiskan sumber daya alam kita tanpa ijin terlebih dahulu sehingga membuat masyarakat sengsara. Saat ini sebagai generasi penerus bangsa, tolong disiplin untuk menjaga hak-hak keutuhan NKRI. Di dunia kita ini diuji, mau memilih surga apa neraka. Jika ingin surga, marilah kita berbuat baik kepada sesama,” tuturnya mengakhiri pembicaraan. (Liesna/Falaq).

 

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *