Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Pasca bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, bukan berati pekerjaan sudah selesai. Belanda ingin bercokol lagi di tanah air dengan melakukan berbagai agresi dan tidak henti-hetinya merongrong kemerdekaan yang sudah diraih oleh para pejuang Indonesia.

Belanda memiliki keinginan kuat untuk berkuasa kembali di Indonesia dengan menyusupkan tentara NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) ke AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies). AFNEI adalah pasukan yang dikhususkan untuk melucuti senjata tentara Jepang, membebaskan tawanan perang, dan mengembalikan Indonesia ke tangan Belanda pasca Perang Dunia Kedua.

Sedangkan NICA merupakan organisasi yang didirkan orang-orang Belanda yang melarikan diri ke Australia setelah Belanda menyerah pada Jepang. Organisasi ini semula didirikan dan berpusat di Australia. Keadaan bertambah buruk karena NICA mempersenjatai kembali KNIL setelah dilepas oleh Sekutu dari tawanan Jepang. NICA di bawah pimpinan Van der Plass dan Van Mook ikut di dalamnya, sikap rakyat Indonesia menjadi curiga dan bermusuhan. Kedatangan Belanda (NICA) berusaha menegakkan kembali kekuasaannya di Indonesia.

Para pejuang Indonesia tak gentar menghadapi NICA, tak terkecuali Marlena (88) yang lahir di Probolinggo 01 Januari 1929. Ia merupakan salah satu pejuang kemerdekaan wanita yang melawan kedatangan tentara NICA dalam kurun Waktu 1946 sampai dengan 1949.

Kepada Lazismu Kota Probolinggo ia menceritakan bagaimana dirinya bersama teman-teman berjuang melawan Belanda guna merebut kemerdekaan Indonesia. Meskipun Marlena seorang wanita yang usianya masih 16 tahun kala itu, ia begitu gigih melawan Belanda.

Ia masih teringat betul peristiwa perlawanan yang dilakukannya disaat melakukan aksi perampasan senjata, pelor dan granat di markas Belanda. Tugas perampasan itu atas intruksi dari komandannya yang benama Kolonel Alex. Untuk melakukan perampasan ia menyamar sebagai gadis penjual makanan ke markas-markas Belanda. Begitu tentara lengah, ia melakukan aksinya mencuri beberapa senjata, pelor dan granat.

Namun peristiwa nahas pun terjadi. Ia ditangkap dan ditawan dalam beberapa hari dengan beberapa tahanan. Tangan dan kakinyapun dirantai dan ia mengalami siksaan setiap harinya. Marlena diinterogarasi dengan bermacam-macam pertanyaan. Akibatnya kaki kanannya melepuh karena pukulan dan siksaan dan membekas tidak sempurna hingga kini.

Tidak mau menyerah dan jadi bulan-bulanan Belanda, suatu ketika Mbah Marlena akhirnya berhasil melepaskan diri berkat senjata yang dirampasnya, yang kemudian ia tembakkan dengan membabi buta. 5 orang tentara Belanda tewas seketika. Atas aksi heroik itu ia pun berhasil meloloskan diri.

“Waktu niku kulo tasih perawan. Kulo ditugasi kalihan Kolonel Alex mundut senjata, pelor, granat ten markas Londo (Belanda). Wes bolak balik-balik. Nanging, nate ketemu sampai kulo disikso.. Alhamdulillah… Kulo rampas sejatane tentara Londo terus tak tembakaken. Lima tentara langsung mati…” (dalam bahasa Jawanya yang cukup kental).

Semangat Marlena dalam mempertahankan Kemerdekaan begitu tinggi. Tugas kita generasi masa kini adalah mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan menghargai para Veteran Republik Indonesia.

Setiap tahun ada hari besar yang Mbah Marlena tunggu-tunggu selain ‘Idul Fitri, yaitu Bulan Agustus. Karena dalam bulan ini ia melakukan ziarah ke Makam Pahlawan dan mengikuti serangkaian kegiatan korps Veteran. Hampir teman-teman Veteran yang ikut berjuang melawan penjajah sudah wafat sebagai pahlawan kemerdekaan. Setiap menabur bunga di makam pehlawan ia tak henti-hentinya menangis karena Allah masih memberikan kesempatan hidup padanya sampai hari ini.

Meskipun usianya sudah renta namun Mbah Marlena masih terlihat gagah. Semangatnya juga masih terus berkobar. Terlebih ketika meneriakkan kata MERDEKAA!!!. Beberepa lagu kemerdekaan masih hafal dan pengucapannya cukup jelas. Ia pun hapal beberapa lagu berbahasa jepang.

Menurut H. Muna’amul Azizid, S. Ag Sekretaris PDM Kota Probolinggo yang rumahnya dekat dengan veteran wanita itu, Mbah marlena adalah Jamaah Subuh yang masih aktif meskipun usianya sudah tua.

“Saat ini Mbah Marlena tinggal sendiri karena suaminya sudah meninggal. Ia pernah memiliki anak namun kurang baik hubungannya, sehingga dalam usianya yang sudah lanjut ia mengurus keperluannya sendiri setiap hari seorang diri” Lanjut Sekretaris PDM Kota Probolinggo.

Bagi Mbah Marlena memaknai perjuangan adalah tidak takut mati. Dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan tidak ada kata lain selain ‘Hidup atau Mati’. Ketika disinggung tentang makna kemerdekaan saat ini, menurutnya dengan terebutnya kemerdekaan Indonesia merupakan sebuah kepuasan tersendiri meskipun kini sudah tidak berjuang lagi melawan penjajah.

Saat ini kita hanya bisa mengisi kemerdekaan dan hidup tidak sesulit pada masa-masa awal kemerdekaan. Masih teringat jelas bagi Mbah Marlena kesulitan bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan, khususnya sandang dan pangan. Katanya “Dulunya rakyat Indonesia sudah terbiasa makan singkong, sagu dan tunas-tunas bambu yang muda. Hampir tidak pernah saya makan nasi dan lauk pauk yang saat ini bisa dinimati kapan saja. Namun kesulitan hidup di bawah penjajahan itulah yang memberikan semangat untuk terus berjuang melawan ketidak adilan penjajahan Belanda” katanya tetap dalam bahasa Jawa..

Kehadiran Lazismu Kota Probolinggo memberikan sebuah cinderamata dan paket sembako kepada pejuang wanita seperti Mbah Marlena sebagai Pahlawan kemerdekaan. Semoga semangatnya terus memberikan inspirasi kepada para generasi penerus pengisi kemerdekaan. (Lazismu Kota Probolinggo).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *