Sosok Pejuang Kemerdekaan R.I. di Nganjuk : Di Usia Yang Hampir Seabad, Mbah Mujahid dan Mbah Wahid Tetap Memberikan Inspirasi Semangat Kemerdekaan

Media sosial

Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72 tahun 2017 ini sungguh sangat bermakna bagi para Amil dan aktivis Lazismu di Kabupaten Nganjuk. Dalam memperingati HUT kemerdekaan RI ke 72 tahun ini Lazismu memberikan Kado atau bingkisan kepada para pejuang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk berkibarnya sang Merah Putih.

Perjalanan mencari pelaku sejarah Kemerdekaan di usia RI yang ke-72 tahun ini semakin sulit. Sangat langka menemui pejuang angkatan 1945 karena usianya sudah diatas delapan puluhan tahun.

Ketika tim rombongan Lazismu menemui Mbah Mujahid usianya sudah 90-an tahun. Ia tinggal di dusun/desa Sonopatik, Kecamatan Brebek, Nganjuk. Kondisi tubuhnya sudah sangat lemah, demikian pula dengan pendengarannya. Mbah Mujahid hanya mampu berbaring di tempat tidurnya.

Menurut Yusuf, putera ketiga yang menjaganya, daya ingat Mbah Mujahid sudah terganggu. Ketika diajak bicara kadang menyambung, terkadang juga tidak menyambung. Namun di siang itu tiba-tiba Mbah Mujahid bertanya, “Saya nggak kenal kalian tapi kok kesini ada apa ya?” tanyanya. Juwari, S.Pd. Ketua Lazismu Nganjuk pun menjawab, “Niki ngaturaken sekedik (Ini menyampaikan sedikit) tanda ucapan terima kasih saking (dari) Lazismu kagem panjenengan (untuk anda) yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia”.

Yang perlu diteladani, dari setiap denyut napasnya Mbah Mujahid selalu berdzikir berucap Asma Allah walau dengan suara yang terdengar menggumam. Walaupun ia sudah tidak bisa melaksanakan sholat secara normal, Mbah Wahid tidak lupa dengan kewajiban lima waktu itu. Ia pun tetap sholat sembari berbaring dengan suara yang bergumam. Ia pun merasa terharu ketika rombongan Lazismu berpamitan.

Selain ke rumah Mbah Mujahid, rombongan Lazismu Nganjuk juga bersilaturahim ke rumah Mbah Abdul Wahid (93 tahun), pejuang 1945. Mbah Wahid merasa senang dikunjungi oleh Lazismu. Ia pun mengkisahkan perjuangannya ketika Sekutu datang dan Belanda akan ingin kembali menguasai Indonesia. Kata Mbah Wahid istilah waktu itu adalah Class. Ketika itu Abdul Wahid muda direkrut sebagai Relawan dari Gerakan Pemuda Islam Indonesia.

Berbeda dengan Mbah Mujahid, walaupun Mbah Wahid usianya sudah menjelang satu abad kondisi tubuhnya masih sehat dan ia bisa bercerita banyak tentang pengalaman masa lalunya. Dulu ketika berperang melawan Sekutu dibawah komando Bung Tomo, ia dikelompokkan dalam satu regu sebanyak delapan orang. Karena keterbatasan militer waktu itu, dari delapan orang itu hanya dua pucuk senjata peninggalan Jepang yang digunakan untuk bertempur, sedangkan lainnya bersenjatakan bambu runcing. Pada saat yang membawa senjata itu gugur maka senjatanya digantikan oleh anggota regu lainnya, demikian seterusnya. Namun kondisi yang serba terbatas itu tidak mengurangi semangat bertempur, bahkan rela mengorbankan jiwa dan raganya.

Mbah Wahid berpesan kepada generasi muda masa kini agar bekerja dengan sebaik-baiknya, rajin beribadah dan jangan suka membuang waktu dengan percuma, isilah dengan pekerjaan yang baik, tuturnya. MERDEKA! (Mijan/Lazismu Nganjuk).

 

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
ada pertanyaan?
Lazismu Jatim
Assalamualikum, adakah yang bisa saya bantu?