Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Jika pada tahun 1437/2016 lalu saya (selaku Wakil Ketua Lazismu Jatim) ditakdirkan Allah menempuh Rihlah (Perjalanan) Dakwah di Kalimantan Tengah, tepatnya di kota Buntok, Barito selatan selama 3 hari, maka pada tahun 1438 H / 2017 M ini saya ditakdirkan menjalani Rihlah Dakwah kedua di Kalimantan Timur, tepatnya di kota Balikpapan selama 4 hari.

Kamis usai makan sahur tepatnya tanggal 13 Ramadhan 1438 atau 8 Juni 2017, saya siap-siap berangkat menuju bandara Juanda karena harus terbang menuju Balikpapan pada jam 06.00 WIB. Alhamdulillah penerbangannya ontime sehingga sekitar 1 jam 15 menit Pesawat Citilink sudah mendarat di bandara internasional Haji Sutan Muhammad Sulaiman Balikpapan.

Saya dijemput oleh salah seorang anggota Lazismu kota Balikpapan dan langsung diajak menuju gedung Dakwah Muhammadiyah, yang sekaligus sebagai Kantor Lazismu kota Balikpapan.

Jika di Barito Selatan setahun yang lalu saya lebih banyak menyampaikan dakwah berpusat di masjid Taqwa Buntok, namun pada rihlah dakwah kedua tahun ini benar-benar rootshow dari masjid ke masjid yang ada di kota Balikpapan, baik Balikpapan Tengah (Pusat), Balikpapan Utara maupun Balikpapan Timur, khususnya di masjid-masjid milik Muhammadiyah.

HAL-HAL YANG MENGINSPIRASI.

Meskipun perkembangan dakwah Muhammadiyah di kota Balikpapan masih harus lebih berpacu dengan Ormas lain seperti NU, Hidayatullah, dan sebagainya, namun ada hal-hal yang menginspirasi dan perlu dikembangkan di Jawa Timur, antara lain:

  1. Adanya Pondok Muhammadiyah “Mujahidin” yang bermarkas di Balikpapan Utara, dengan jumlah santri sebanyak 950 anak, yang sebagian dibimbing untuk Tahfidhul Qur’an (menghafal Qur’an). Di Masjid al-Mukhlisin Balikpapan Tengah misalnya, setelah saya memberi kuliah Shubuh, dilanjut dengan Tahfidhul Qur’an oleh para santri yang jumlahnya sekitar 30 an anak itu.
  2. Imam shalat rawatib termasuk shalat tarawih di beberapa masjid / mushalla, misalnya Masjid Tarbiyah (BPP Pusat), Masjid Ahmad Dahlan (BPP Utara), Masjid Ahmad Dahlan (BPP Timur) dan lainnya, umumnya adalah anak-anak muda yang tergabung dalam kelompok Tahfidhul Qur’an, mulai dari yang hafal 5 juz hingga yang hafal 20 juz.
  3. Adanya FKM (Fardhu Kifayah Muhammadiyah). Lembaga ini bergerak di bidang Perawatan Jenazah serta penyuluhan keluarga mayat pada hari ke 3, 7 dan 40 hari dari kematian, agar tidak meratap terus, mau berfikir ke depan dan hidup mandiri. Hal itu semakin diminati banyak orang di luar Muhammadiyah dan hingga kini FKM pimpinan Bpk Salmani ini sudah beranggotakan 300 orang lebih. Saat saya tanya, apa motivasi Bapak setelah purna dari dinas Perhutani kok menekuni lembaga ini? Dia jawab dengan tegas : “Kami ingin mewujudkan ajaran Surat Al Ma’un di tengah-tengah masyarakat luas seperti yang dirintis oleh K.H. Ahmad Dahlan tempo dulu”. Maksudnya, mengedepankan dakwah bil Hal.

Harapan  takmir dan para tokoh Muhammadiyah setempat, agar saya bersedia nambah 3 hari lagi, karena masih banyak masjid yang belum kebagian, kebetulan pada tanggal 11 Juni itu ada Rakerwil Lazismu di Samarinda, Namun karena tugas di Surabaya sudah menunggu dan tiket menuju Juanda juga sudah terbeli, maka saya hanya bisa menjawab: “Kripik Gedhang Ghodho Telo”,  tithik edhang podho kroso. Maaf… sekali lagi maaf saya harus kembali.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari hal-hal positif yang ada di Kalimantan. (SA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *