Ada Pertanyaan ?

Hubungi 031-8437191

Syamsun Aly, MA

Dalam sebuah hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menegaskan : “Apabila manusia telah meninggal dunia maka terputuslah  perbuatan (amal) nya, kecuali 3 perkara : Shadaqah Jariyah atau Ilmu yang bermanfaat atau Anak Shalih yang mendo’akan (orang tua) nya”. (H.R. Jamaah selain al Bukhari, dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘Anhu.)

Hadits di atas memberikan pelajaran kepada kita, bahwa meski manusia sudah meninggal dan harus berpisah dengan keluarga, harta serta kedudukan yang sangat dicintainya selama hidup di dunia, namun masih ada 3 hal yang tetap menyertainya sejak di alam kubur (barzah) hingga alam akhirat, untuk dipersembahkan ke hadhirat sang pencipta. Di antaranya adalah Shadaqah Jariyah (Wakaf Produktif).

Wakaf Produktif ialah ; memberikan harta di jalan Allah, beruapa uang atau barang. Bisa berupa sebidang tanah atau bangunan masjid/mushalla, madrasah, pondok pesantren, panti asuhan, balai pengobatan, pengadaan mobil ambulance, mobil operasional dakwah dan lainnya. Fungsinya untuk menolong fihak-fihak yang membutuhkan, (fuqaraa’, masaakiin serta kelompok dhu’afa’ lainnya),  yang secara rutin dan berkesinambungan bisa dimanfaatkan  bagi dakwah dan perjuangan agama serta kepentingan umum, hingga kehidupan dunia berakhir.

Para Pecinta Wakaf Produktif. Sudah banyak dalam kehidupan ini orang yang menyintai dan memilih Wakaf Produktif kepada Muhammadiyah untuk kepentingan dakwah Islam maupun untuk kepentingan umum, sejak perintisan berdirinya oleh K.H. Achmad Dahlan (Allahu yarhamhu)  hingga saat ini. Baik dari orang dalam maupun luar persyarikatan, karena begitu besarnya kepercayaan ummat kepada Muhammadiyah.

Hajah Mahiyah Surabaya (Allahu yarhamha) misalnya, telah mewakafkan beberapa lahan tanahnya di wilayah kecamatan Kenjeran. Tanah berlokasi di Platuk Gg. Langgar No. 15 yang kemudian dibangun Masjid Al Amin yang relatif besar dan berlantai 2. Lahan tanah di Jl. Platuk No. 104 yang kemudian dibangun Gedung SMP Muhammadiyah 15 berlantai 3 serta Gedung Dakwah Muhammadiyah Cabang Kenjeran lantai 4. Kemudian wakaf tanah di Jl. Pogot No. 1-3 yang kemudian dibangun Masjid At Taqwa berlantai 2.

Ketika ditanya (waktu masih hidup), kenapa mbah mewakafkan semuanya? maka jawabnya :  “ Saya ini  orang bodoh nak, jadi nggak bisa mengajarkan ilmu apa-apa, saya juga gak punya anak, jadi nggak ada yang mendo’akan saya bila saya mati nanti. Satu-satunya yang bisa saya harapkan (menurut pak kyai) ya mewakafkan tanah saya ini, barangkali bisa menjadi amal jariyah saya”.

Di kota Pasuruan ada seorang ibu janda, Hj. A. Rouf namanya, yang mewakafkan Bengkel dan rumahnya berlantai 4 untuk asrama santri Tahfidhul Qur’an kepada Muhammadiyah, untuk menyiapkan imam-imam shalat jama’ah serta kader ulama’ masa depan, yang sudah dimanfaatkan sejak 1 tahun silam.

Di Kota Blitar, juga ada H. Jafry Soelaiman yang telah mewakafkan 2 unit mobil dakwah, untuk PDM dan Lazismu Kota Blitar. Juga sumbangan untuk pengadaan Swalayan milik Persyarikatan, serta beberapa proyek dakwah Islam (Muhammadiyah) lainnya, yang nilainya milyaran rupiah.

Kemudian akhir-akhir ini banyak Wakaf Produktif ummat yang dikoordinir oleh Lazismu Jatim saat terkena musibah gempa/banjir. Seperti membangun kembali Pondok Pesantren di Bima yang hancur karena banjir serta penyerahan mobil ambulance untuk masyarakat sekitar.  Kemudian bantuan 4 unit rumah, 1 unit mobil ambulan, penanaman 1000 pohon jati emas dan pemberian 1000 perlengkapan shalat, Kitab al Qur’an dan sembako untuk warga Pacitan akhir Pebruari 2018, dan masih banyak lagi lainnya.

WAKAF PRODUKTIF, INVESTASI ABADI

Menurut pernyataan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam  harta manusia itu ada 3 macam. Pertama; Yang ia makan sampai habis, Kedua; yang ia pakai/gunakan sampai rusak dan ketiga ; yang ia  belanjakan di jalan Allah.

Harta yang pertama dan kedua itu hanya terbatas di dunia, sementara harta yang ketiga, dimiliki manusia sejak di dunia hingga di akhirat kelak. Maka Wakaf/Shadaqah  merupakan harta sejati  manusia yang bersifat Abadi.

Ketika seseorang mewakafkan hartanya di dunia karena Allah untuk kepentingan Sabilillah, maka dia mendapat balasan pahala saat berwakaf dan setiap kali wakaf tersebut dimanfaatkan dalam kehidupan. Semakin banyak yang menggunakan, maka semakin banyak pula pahala yang diterimanya.

Tidak hanya terbatas itu, orang yang gemar berwakaf/bershadaqah, akan diberi kemudahan dalam hidupnya (QS. Al Lail : 5-7), ditambah/dilipat-gandakan harta kekayaannya (QS. Ar Ruum :39) dan dihindarkan dari bencana kehidupan serta di sembuhkan dari berbagai penyakit dan rasa sakit (al Hadits).

Orang yang berinfaq di jalan Allah diibaratkan petani yang menanam 1 biji padi di sawah/ladangnya, lalu tumbuh 7 tangkai dan setiap tangkai ada 100 biji, sehingga menanam 1 kebaikan, akan tumbuh menjadi 700 kebaikan bahkan bisa lebih dari itu. (simak QS. Al Baqarah : 261).

Semoga uraian diatas bisa menginspirasi kita semua dalam beramal sholeh dan menebar kebaikan demi kemaslahatan ummat. Aamiin.

Syamsun Aly, MA, Wakil Ketua Lazismu Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *