Media sosial

Upaya BankZiska Lazismu Fokus Entaskan Seorang Ibu Yang Terjerat Hutang 40 Rentenir di Ponorogo

Faruq Ahmad Futaqi, Manager BankZiska Lazismu Jatim di kantornya, desa Jabung, kabupaten Ponorogo (25/5/21) menyatakan bahwa kehadiran BankZiska telah mendapatkan respon positif dari masyarakat. Bahkan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko dalam acara Launching BankZiska telah memberikan respon baik bahwa BankZiska Lazismu merupakan gerakan melawan kapitalisme (rentenir) dengan ideologi, yaitu pemberdayaan wong cilik agar terbebas dari jeratan beban ekonomi yang tidak sehat dan membelenggu. Dengan gerakan ekonomi pemberdayaan dan pembebasan, BankZiska memberdayakan ekonomi wong cilik. Oleh karena itu perlu didukung, diduplikasi dan dijadikan gerakan yang masif, menurut Bupati.

“Selajutnya berawal dari sebuah informasi yang benar-benar membuat miris dan hati menangis bagi yang mendengarnya, BankZiska Lazismu tergerak untuk memberikan solusi. Informasi itu diberikan oleh ibu Lis, tokoh masyarakat sebuah perkumpulan wanita Islam di Ponorogo tentang adanya kasus jeratan hutang yang menimpa pada salah satu warga yang bernama Ibu Nh. Kita dimohon untuk dapat membantu menyelesaikan permasalahan tersebut. Ibu Nh tinggal di Jenangan, Ponorogo. Dia mengabdi sebagai guru swasta pada salah satu sekolah di desanya.” kata Uki, panggilan akrab Ahmad Faruq Futaqi, Manager Ziska Lazismu.

Ibu Nh bersuamikan pak Mt, mempunyai 2 orang anak yang sudah berkeluarga. Kehidupan keluarga bu Nh saat ini sangat berat sekali karena setiap hari harus membayar hutang kepada puluhan Bank Thithil, atau rentenir lokal, hingga sebanyak 40 lintah darat. Belum lagi terbebani pinjaman yang sifatnya bulanan ke salah satu bank atau koperasi dan juga BMT, lanjut Uki.

“Berdasar Informasi tersebut, selanjutnya BankZiska mengadakan analisis terhadap bu Nh dari berbagai pihak. Ia sebenarnya bukan dari UMKM binaan yang merupakan fokus garapan BankZiska. Ibu Nh merupakan seorang guru swasta. Namun, hidupnya sangat susah karena keadaan realita jeratan hutang bunga tinggi yang betul-betul memprihatinkan. BankZiska selanjutnya berusaha membantu melalui koordinasi dengan berbagai pihak, utamanya Lazismu Wilayah Jatim dan Lazismu Daerah Ponorogo” ujar Uki kepada Lazismu Jatim.

Uki menambahkan, Bu Nh saat ini sangat memerlukan bantuan agar bisa terbebas dari jeratan hutang rentenir (bunga tinggi berlipat-lipat). Keadaan ekonomi keluarganya sangat hancur dikarenakan banyaknya hutang yang harus ia tanggung. Setiap hari habis kerja dia selalu keluar rumah mencari hutangan baru. Saat ini ia mempunyai hutang di berbagai tempat dengan nilai yang bervariasi. Keadaan inilah yang selanjutnya melatarbelakangi BankZiska Lazismu untuk membantu Ibu Nh.

Derita Berawal Dari Hutang Yang Menggurita

Uki, Manager BankZiska Lazismu, menceritakan bahwa anak pertama bu Nh seorang laki-laki (Aw) dengan status duda anak 1 dan saat ini bekerja menjadi TKI di salah satu negara di Asia. Sedangkan anak kedua Ibu Nh perempuan bernama It sudah berkeluarga bekerja sebagai karyawan fotokopi dan suaminya bekerja pada usaha air minum isi ulang. Adapun pak Mt, suami bu Nh pernah bekerja sebagai tukang ojek dan kernet Angkodes. Namun, karena pernah menderita batu ginjal dan dioperasi serta memiliki riwayat penyakit jantung yang harus sering kontrol, pak Mt saat ini hanya di rumah saja. Keadaan itulah yang membuat kelurga Bu Nh memiliki banyak hutang kepada Bank, Koperasi, BMT, Bank Thithil (Rentenir) hingga ke perorangan.

“Permasalahan utama yang dihadapi oleh keluarga Bu Nh adalah masalah hutang yang tidak berkesudahan. Hutang ini berawal saat Ibu Nh menjadi tulang punggung mencukupi seluruh kebutuhan keluarganya. Termasuk menempuh kuliah untuk prasyarat sertifikasinya, mengobatkan suaminya, memberangkatkan anaknya ke luar negeri, mengobatkan anaknya karena operasi infeksi usus setelah dipulangkan dari negara tempatnya bekerja, dan menikahkan anaknya” jelas Uki.

“Penghasilan bu Nh dari Guru sebesar 1.400.000 perbulan dengan dipotong pajak. Penerimaan sertifikasi juga tidak pasti. Realisasi dalam jangka 2-6 bulan. Dikarenakan kondisi seperti itu, maka hutang yang dialami Bu Nh semakin hari semakin besar apalagi setelah terkena jeratan bank thithil harian (Rentenir). Hampir semua orang yang dikenal oleh bu Nh pernah dihutangi untuk menambal sulam hutang yang membebaninya” kata Uki menjabarkan kisah bu Nh.

Hutang yang terjadi pada Ibu Nh adalah sejak dia kuliah untuk memenuhi syarat sertifikasi guru. Lalu untuk mengurusi suaminya seringkali berobat keluar masuk rumah sakit (dulu tanpa BPJS). Memberangkatkan anaknya jadi TKI ke salah satu negara di Asia, lalu dipulangkan karena harus operasi usus buntu. Selanjutnya berangkat lagi ke negara tempat kerjanya lagi. Sedangkan dari penghasilan yang diterima tidak mampu untuk membayar nilai hutang yang ditanggung dan terus berbunga.

Karena hutang yang terus berulang-ulang ini mulai dari Bank plat merah, Bank Daerah, BPRS lokal, Koperasi-koperasi sampai dengan BMT, akhirnya ibu Nh mengenal Bank Thithil harian atau rentenir pasar. Bunga tinggi dan angsuran jangka pendek (mingguan) menyebabkan derita yang dialami Bu Nh semakin dalam dan hutangnya semakin menggurita tak terselesaikan. Ekonomi keluarganya hancur lebur berantakan. Hutangnya ada dimana-mana, termasuk kepada wali murid di sekolah tempatnya bekerja.

Solusinya

Bu Nh dan keluarga akhirnya semakin susah memikirkan hutang yang tidak selesai, malah semakin bertambah. Solusi utamanya adalah menyelesaikan hutang bank thithil harian yang tak kunjung usai. Guna membayar bank thithil harian ini, Ibu Nh harus pontang-panting setiap hari mencari hutang ke siapapun untuk mengangsurnya. Pulang dari mengajar di Sekolah Ibu Nh tidak pulang, namun terus mencari orang yang bisa dihutangi. Hal ini yang membuat hidup Ibu Nh dan keluarga tidak pernah tenang siang dan malam.

Uki menguraikan, setiap hari bu Nh harus membayar kepada 2 sampai 7 tagihan bank Thithil dengan nilai rata-rata ratusan ribu sampai dengan satu juta rupiah lebih. Libur bayar hanya hari ahad. Namun bu Nh juga punya hutang yang berbasis hari pasaran. Liburnya hanya setiap wage. Di satu sisi suami dari Ibu Nh yang masih dalam kondisi sakit yang sering kambuh.

Saat ini, Aw anaknya yang menjadi TKI di luar negeri baru menyelesaikan hutangnya ke keluarga mantan isterinya senilai Rp 86 juta. Selesai dalam jangka waktu 3 tahun. Aw juga menjatah anaknya senila kurang lebih 1 juta setiap bulan (Anak masih kecil SD). Dia termasuk yang mengirimkan uang kepada Pak Mt untuk menambal sulam rumahnya. Aw merupakan anak yang berpotensi untuk membantu keuangan keluarga Bu Nh. Sedangkan anaknya yang kedua belum memungkinkan untuk membantu menyelesaikan masalah keuangan keluarga bu Nh.

Sedangkan anak kedua perempuan yang sudah berkeluarga dan bekerja sebagai karyawan percetakan foto kopi, suaminya bekerja sebagai karyawan air minum isi ulang. Ibu Nh mengenal Bank Thithil kurang lebih satu tahun belakangan ini dan telah menumpu hutang khusus ke Bank Thithil harian sejumlah 40. Saat ini Bu Nh sudah menyerah dan tidak sanggup lagi membayar hutang-hutangnya.

Aset yang dimiliki bu Nh hanya rumah dan tanah yang ditempati sekarang ini dengan luas tanah 240 meter persegi yang sudah dijaminkan. Rumahnya sederhana namun sudah bertembok dan berlantai keramik sederhana. Sebagian sudah di cat dan sebagian masih batu bata. Punya halaman kecil, berpintu kayu dan bercendela kayu kaca sederhana layaknya rumah pada umumnya. Untuk kebutuhan makan, Bu Nh disuplai dari anak keduanya yang juga tinggal di desa Jenangan.

Bu Nh memiliki hutang di banyak tempat mulai bank, koperasi, BMT, bank thithil dan perorangan. Hutang berat yang melanda Bu Nh adalah hutang yang sifatnya cicilan harian (mingguan). Di masyarakat hutang harian ini dikenal dengan Bank Thithil. Sementara itu para bank Thithil menggunakan nama badan hukum koperasi dengan sistem hutang berbunga tinggi. Ada yang menggunakan sistem tabungan dan ada juga yang hutang tanpa ada tabungannya. Sistem angsuran adalah setiap pekanan (7 hari). Jika pinjam senin, maka sening minggu depan mengangsur, begitu seterusnya. Bu Nh libur pada hari minggu saja. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu Bu Nh harus bayar hutang yang bervariasi. Selain model harian Bu Nh juga hutang model pasaran (5 harian) dengan mengacu hari pasar kliwon, legi, pahing, pon dan wage. Hanya wage saja Bu Nh yang tidak punya tanggungan hutang.

Hutang bank Thitihil sebenarnya nilainya kecil-kecil namun frekuensinya banyak, berbunga sangat tinggi dan harus dibayar tidak boleh kurang. Rata-rata dicicil 10 kali angsuran (10 minggu atau 10 pasaran lunas) dengan bunga setara 100-300an persen setahun. Sebagian Bank Thithil memperbolehkan cicilan tidak penuh, namun sebagiannya harus wajib dibayar penuh. Sebagian penagihnya lunak santun sebagiannya kasar. Jika tidak dibayar maka akan ditunggu sampai dibayar.

Kini keluarga telah melarang Bu Nh untuk berhutang. Pak Mt sudah mencoba mengatasi hutang Bu Nh, namun masih dengan cara berhutang lagi. Pak Mt memiliki teman yang bersedia menghutangi untuk menalangi cicilan hutang kepada bank thithil. Hutang tersebut tidak berbunga namun harus dikembalikan. Menurut pak Mt dan bu Nh hutang-hutang tersebut akan dibayar sambil menunggu bantuan dan solusi yang saat ini sedang diikhtiarkan.

Bank Ziska Lazismu, sebagai pihak yang turut disambati juga tak tinggal diam. Salah satu solusinya, menurut Uki, adalah mendekati para rentenir lokal atau bank Thithil guna menegoisasikan dan meringankan beban hutang bu Nh. BankZiska mendorong para rentenir itu membuka sedikit mata hatinya untuk mengurangi hutang bu Nh. BankZiska juga akan mengadvokasi bu Nh jika di kemudian hari terdapat permasalahan yang semakin memberatkan. Disamping itu Lazismu Jatim melalui BankZiska juga memberikan bantuan walau belum bisa menutup hutang-hutang bu Nh.

“Ibu Nh tergolong orang baik dengan segala kekuranganya dan berkehidupan wajar dalam kesehariannya. Tumpukan Hutang yang dialami bu Nh lebih dikarenakan mencukupi kebutuhan hidup dan kondisi sakit yang dialami oleh suaminya, disatu sisi pemasukan bulanan yang cukup kecil. Ia merupakan guru yang sedang diberikan Allah ujian berupa jeratan hutang yang sangat berat dan ia pun telah menyatakan tidak sanggup membayar hutang-hutangnya, namun ia masih mempunyai niat baik untuk mencari solusi, sehingga yang bersangkutan termasuk dalam kriteria Gharim” Uki menyimpulkan.

Tentu masih teramat banyak bu Nh-bu Nh di sekitar kita, dimana ada rentenir tentu ada penderitaan wong cilik. Oleh karena itu pentingnya sistem ekonomi yang membebaskan dan memberdayakan wong cilik, bukan membiarkan mereka berjuang sendiri di jalur terjal nan membahayakan. Bersama BankZiska Lazismu, kita bisa beraksi bersama untuk sesama, yang terpenting harus ada solusi yang bisa dieksekusi atas permasalahan yang terjadi, pungkas Uki. (Ad/FAF/BankZiska-prop)

Keterangan : Faruq Ahmad Futaqi (Uki) Manager BankZiska Lazismu sedang dishooting oleh media.

Keterangan : Rumah bu Nh di Jenangan, Ponorogo.

One Comment

  • April says:

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. In et ipsum sit amet ex pulvinar mattis. Pellentesque vitae purus viverra, aliquet lacus in, fringilla massa. Suspendisse ac est a nisi aliquet sollicitudin. Interdum et malesuada fames.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
ada pertanyaan?
Lazismu Jatim
Assalamualikum, adakah yang bisa saya bantu?