Zakiyuddin Baidhawy : “Dana Zakat Untuk Pembangunan Masjid, Sekolah dan Pesantren”

Media sosial

Sesuai dengan surat al-Taubah 9: 60, zakat diperuntukkan untuk 8 kategori asnaf. Bolehkah zakat disalurkan untuk pembangunan masjid, pesantren atau sekolah?

Para ulama berbeda pendapat perihal penggunaan dana zakat untuk pembangunan masjid dan semacamnya. Perbedaan ini bersumber dari perbedaan penafsiran kata “fi sabilillah”.  Perbedaan ini berangkat dari ijtihad mereka yang cenderung meluaskan makna dan menyempitkan makna.

  1. Sebagian ulama bersikeras untuk tidak memperluas makna fi sabilillah, namun tetap seperti pada masa Rasulullah SAW dan para shahabat, yaitu untuk para mujahidin yang terlibat perang secara fisik. Pendapat ini melarang penggunaan dana zakat untuk pembangunan masjid. Jumhur ulama termasuk di dalamnya 4 imam mazhab (hanafi, maliki, syafi’i dan hanbali) cenderung kepada pendapat mudhayyiqin. Mereka bependapat bahwa yang termasuk fi sabilillah adalah para peserta pertempuran fisik melawan musuh-musuh Allah dalam rangka menegakkan agama Islam. Di kalangan ulama kontemporer yang mendukung hal ini adalah Syeikh Muhammad Abu Zahrah. Sebab, menurut mereka, kata “fi sabilillah” berarti berperang di jalan Allah SWT. Selain itu, kata “innama”pada awal ayat memiliki fungsi pembatasan cakupan (hashr) dan penetapan (itsbat)  sehingga kata “fi sabilillah” tidak dapat ditafsirkan dengan semua bentuk kebaikan. Mereka juga berhujah bahwa makna suatu kalimat dalam al-Quran harus ditafsirkan sesuai dengan pengertian kalimat tersebut ketika ayat turun. Inilah pendapat sebagian besar ulama.
  2. Sebagian ulama lain berpendapat mengenai kebolehan penggunaan dana zakat untuk pembangunan masjid, pesantren, sekolah dan semacamnya. Dasar pendapat mereka adalah ijtihad yang sifatnya agak luas serta bicara dalam konteks fikih prioritas. Di masa sekarang ini, lahan-lahan jihad fi sabilillah dalam arti jihad secara fisik boleh dibilang makin sempit ruangnya. Sementara pendidikan dan pembinaan umat yang juga tak kalah pentingnya membutuhkan sokongan dana besar, apalagi di negeri minoritas muslim seperti di Amerika, Eropa dan Australia.  Siapa yang akan membiayai dakwah di negeri-negeri tersebut, kalau bukan umat Islam. Dan bukankah pada hakikatnya perang atau pun dakwah di negeri tersebut  punya tujuan yang sama, yaitu menyebarkan agama Allah SWT dan menegakkannya.

Dalam kitab Fiqh al-Zakah, Yusuf al-Qaradawi menyebutkan bahwa asnaf fi sabilillah, selain jihad secara fisik, juga termasuk di antaranya adalah: 1) Membangun pusat-pusat dakwah (al-Markaz Al-Islami) yang menunjang program dakwah Islam di wilayah minoritas; 2) Membangun pusat-pusat dakwah (al-Markaz Al-Islami) di negeri Islam sendiri yang membimbing para pemuda Islam kepada ajaran Islam yang benar serta melindungi mereka dari pengaruh ateisme, kerancuan fikrah, penyelewengan akhlak serta menyiapkan mereka untuk menjadi pembela Islam dan melawan para musuh Islam; 3) Menerbitkan tulisan tentang Islam untuk mengantisipasi tulisan yang menyerang Islam, atau menyebarkan tulisan yang bisa menjawab kebohongan para penipu dan keraguan yang disuntikkan musuh Islam, serta mengajarkan agama Islam kepada para pemeluknya; 4) Membantu para da’i  Islam yang menghadapi kekuatan yang memusuhi Islam di mana kekuatan itu dibantu oleh para thaghut dan orang-orang murtad; dan 5) Termasuk di antaranya untuk biaya pendidikan sekolah Islam yang akan melahirkan para pembela Islam dan generasi Islam yang kuat,  atau biaya pendidikan seorang calon kader dakwah yang hidupnya diorientasikan untuk berjuang di jalan Allah melalui ilmunya.

Pandangan kedua ini beralasan bahwa kata “fi sabilillah”mencakup semua yang memiliki nilai kebaikan. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam ar-Razi dan Imam al-Kasani. Syekh Rasyid Rida dan Syekh Mahmud Syaltut justru menafsirkan kata “fi sabiilillah” dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kemaslahatan umum umat muslim (li maslahah al-`ammah).

  1. Pendapat ketiga merupakan jalan tengah di antara keduanya, yakni membolehkan penggunaan dana zakat untuk kepentingan masjid dalam kondisi “darurat”. Hukum asalnya penggunaan dana zakat untuk pembangunan masjid (pesantren, sekolah dan semacamnya) tidak diperbolehkan. Tetapi, dapat diperbolehkan dengan catatan seperti tidak ada dana lain untuk membangun masjid selain dana zakat, belum ada masjid, kebutuhan fakir miskin terdekat telah terpenuhi, masjid difungsikan lebih luas, selain sebagai tempat ibadah, juga sebagai wadah untuk menegakkan dan memperjuangkan agama Allah. Ketentuan-ketentuan ini hanya dapat terpenuhi pada daerah-daerah terpencil dan miskin atau pada negara-negara yang muslimnya minoritas. Menurut hemat saya, pendapat ketiga inilah yang memiliki landasan yang cukup kuat. Pendapat ini tidak mengeluarkan kata “fi sabilillah” dari makna berperang di jalan Allah atau memperjuangkan agama Allah. Syekh Yusuf al-Qaradawi menguatkan pendapat yang ketiga ini.

Wallahualam.

Oleh Zakiyuddin Baidhawy, Dewan Syariah Lazismu PP Muhammadiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
ada pertanyaan?
Lazismu Jatim
Assalamualikum, adakah yang bisa saya bantu?